Monday, June 10, 2013

kisah nyata : kebiadaban suami terhadap isteri gara2 mengikuti ajaran qoran

Kristen Menjawab
2 jam yang lalu ·


Kesaksian Shara

 Ayah saya, seorang Maroko, datang ke Inggris di awal tahun 70 an. Dia
 mengajukan visa mahasiswa pada waktu itu, dan urusan imigrasi tidaklah sesulit
 seperti saat ini.
 Dia adalah seorang Muslim yang sangat taat pada waktu itu dan memiliki
 jiwa pemberontak. Dia bertemu dengan ibu saya, seorang warga negara Inggris,
 tidak berapa lama setelah dia tiba di Inggris. Dan setelah bertemu dengannya
 beberapa kali, dia memutuskan untuk menikahinya.
 Ibu saya berumur 16 tahun ketika menikah dengan ayah saya, dan ibu
 saya masih tidak sadar akan orang Muslim dan kebenaran tentang mereka.
 Setelah sekian tahun menikah, kakak perempuan saya lahir; keadaan menjadi
 tidak baik diantara orang tua saya. Ayah saya menjadi kasar dan seringkali
 mencambuk ibu saya hanya karena hal-hal sepele seperti, masakan yang terlalu
 asin dan lain sebagainya.
 Ayah saya selalu memaksa ibu saya untuk menjadi seorang wanita
 Muslim, dan cintanya pada suaminya berarti bahwa dia tinggal di rumah dan
 melahirkan saya setelah kakak perempuan saya berusia dua tahun. Ibu saya
 kemudian melahirkan adik perempuan saya empat tahun kemudian.
 Sebagai seorang pria Muslim, ayah saya bertambah marah dengan
 kenyataan bahwa ibu saya hanya melahirkan tiga anak perempuan. Dia
 memukul ibu saya dengan keras sehingga ia dirawat di rumah sakit. Para dokter
 dipaksa untuk menghilangkan lukanya di tempat dimana ia dipukuli dengan
 keras. Ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan hidupnya. Ketika ibu saya
 sadar, ayah saya dengan baik-baik mengatakan kepadanya bahwa dia akan
 menceraikan ibu saya karena dia tidak dapat lagi melahirkan, dan sebagai lakilaki
 dia membutuhkan seorang anak laki-laki.
 Ibu saya melarikan diri dari ayah saya dan kami. Ketika adik saya
 berumur enam bulan, ibu saya mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan
 kehidupan kami untuk kebaikan; kami tidak pernah melihatnya lagi sampai saya
 berumur dua puluh tahun (tetapi hal itu adalah cerita yang lain). Saya baru
 berumur empat tahun pada waktu itu, dan belum cukup dewasa untuk
 memahami mengapa dia meninggalkan kami. Yang saya lihat adalah bahwa dia
 tidak dapat mengasihi kami.
 Ayah saya tidak dapat mengurus tiga orang anak, sehingga dia menyerah
 dan menempatkan kami di sebuah panti asuhan. Ini hanya keadaan sementara,
 sampai ia dapat mencukupi dirinya sendiri. Situasi ini berlangsung selama tiga
 tahun. Dia mengunjungi kami ketika kami tinggal di panti asuhan itu.
 Bisakah anda bayangkan bagaimana kami merasa terhilang dan kesepian?
 Pada suatu waktu kami memiliki seorang ibu, kemudian dia meninggalkan kami,
 dan beberapa hari kemudian ayah kami membuang kami? Saya benar-benar
 menjadi seorang gadis kecil yang sangat tidak beruntung.
 Tetapi saya melihat kembali masa tiga tahun ketika berada di panti
 asuhan dengan kegemaran tertentu, karena waktu itu adalah satu-satunya
 waktu dalam hidup saya ketika saya mengalami kegembiraan menjadi seorang
 anak. Ketika saya berumur tujuh tahun, ayah saya kembali dan mengambil kami
 ke rumahnya. Tetapi yang pertama ia perlukan adalah untuk menikah kembali.
 Jadi kami semua pergi ke Maroko untuk mengatur pernikahan.
 Keluarga kami di Maroko tidak memberi kesempatan lagi kepadanya
 untuk menikahi seorang wanita kafir, dan mereka telah mengambil seorang
 wanita desa untuknya. Kami bertemu dengannya, dan dia terlihat cukup baik.
 Kami merindukan kasih seorang ibu.
 Ayah saya menikahi wanita ini dan kami kembali ke Inggris untuk
 memulai kehidupan keluarga kami. Keadaan menjadi buruk: ayah saya menjadi
 sangat saleh dan ibu tiri kami menjadi seorang monster. Dia baru saja di Inggris
 beberapa bulan ketika kami mengalami pemukulan fisik yang pertama.
 Dikarenakan kami telah tinggal di Inggris sebelum ayah kami mengambil
 kami kembali, kami tidak dapat berbicara bahasa Maroko, jadi hal pertama yang
 diterapkan adalah aturan yang baru. Tidak boleh berbicara di dalam rumah
 kecuali dengan bahasa Maroko. Mengetahui bahwa kami tidak mengetahui
 sedikitpun tentang bahasa Maroko, dan kami adalah anak-anak yang banyak
 berbicara, acapkali kami melanggar aturan. Kakak saya menyebut kata “Dad”
 dan bukannya menyebutnya dalam bahasa Maroko. Punggungnya dicambuk
 hingga berdarah. Kapan pun salah seorang dari kami melanggar peraturan,
 maka kami pasti menerima hukuman.
 Hidup berubah dengan cepat, dan masa kanak-kanakku telah habis
 dengan perlakuan sewenang-wenang yang penuh dengan kesakitan, pemukulan,
 dan air mata. Sebagian besar hukuman fisik adalah dengan dicambuk, dibakar
 (sebuah pisau yang merah karena dibakar ditempelkan pada kulit kami), diikat
 dan ditinggalkan, dan dipaksa memakan kotoran. Saya tidak berbohong, hal-hal
 tersebut adalah hal yang mereka lakukan untuk melatih kami, tetapi
 sesungguhnya saya sendiri tidak akan melatih seekor anjing seperti itu.
 Kami diajari bagaimana cara membaca Quran. Setiap melakukan
 kesalahan, kami akan dipukul. Kami melakukan semua pekerjaan rumah, dan
 kami menutupi diri ketika di sekolah. Kami tidak diijinkan memiliki teman, dan
 kami tidak pernah bepergian kemanapun. Satu-satunya waktu kami bersenangsenang
 adalah ketika kami berlibur ke Maroko. Kemudian orang tua kami
 menjadi terlalu sibuk untuk memperhatikan kami setiap saat.
 Kemudian, saat saya berumur sebelas tahun, ketika berlibur ke Maroko,
 ayah saya memukul saya dengan keras di Medina (sebuah kota yang hampir
 selalu dikunjungi). Dia sangat kejam. Itu pertama kalinya saya mencoba untuk
 bunuh diri. Saya hanya ingin mati, menyerah, maka saya mengambil sebanyak
 mungkin pil yang dapat saya dapatkan dan menelannya. Amat disayangkan
 bahwa semua hal yang saya lakukan menyebabkan saya sendiri menjadi sangat
 menderita kesakitan. Saya menghabiskan waktu sepanjang malam dengan
 muntah, dan paman saya menjadi sangat khawatir. Dia berlari dan menjemput
 ayah saya, yang hanya melihat saya berbaring dan berkata, “Bagus, biarkan dia
 mati”. Percayalah apa yang saya katakan, pada saat itu saya benar-benar
 menginginkan kematian.
 Tetapi saya tidak mati, saya melanjutkan hidup saya. Kami kembali ke
 Inggris, dan kehidupan berlanjut dengan cara yang sama: dipukuli dan
 menangis sepanjang malam.
 Pada suatu hari ketika saya berumur tiga belas tahun, ibu tiri saya
 menjadi berlebihan ketika memukuli saya. Saya terlambat pulang ke rumah dari
 sekolah (tidak terlalu terlambat) karena saya belajar di perpustakaan. Saya
 berjalan memasuki rumah dan dia melompat ke atas saya. Saat itu ia
 mengenakan sepatu hak tinggi, dan menggunakan bagian hak tingginya untuk
 memukuli kepala saya. Dia terus memukul dan memukul. Saya teringat
 merasakan sesuatu yang hangat mengalir di wajah saya. Saya teringat
 meletakkan tangan saya ke wajah saya dan menariknya untuk melihat apakah
 tangan saya berlumuran darah, dan sungguh banyak darah.
 Saya pun pingsan. Ketika sadar saya tengah berada di rumah sakit, dan
 mereka memberitahu saya bahwa saya mengalami koma selama tiga bulan.
 Secara akademis, saya adalah seorang murid yang pandai. Saya lulus
 semua ujian dasar regular dan saya akan meraih penghargaan dengan
 disponsori oleh sekolah saya untuk pergi ke NASA ketika saya berumur enam
 belas tahun. Itu semua hanyalah mimpi karena ayah saya tidak akan
 mengizinkan saya pergi. Ini adalah contoh mengenai kebiasaannya belajar: Saya
 suka membaca, jadi saya menyembunyikan buku di kamar saya dan
 membacanya ketika saya mempunyai waktu luang. Koleksi buku saya menjadi
 susah disembunyikan dan ayah saya menemukan buku-buku saya. Dia memukul
 saya dan memperlihatkan kepada saya saat dia membakar buku-buku tersebut.
 Dia kemudian meletakkan Quran di tangan saya dan berkata bahwa itulah satusatunya
 buku yang harus saya baca.
 Tetapi serangan ibu tiri saya pada kepala saya, dan sesudah koma tiga
 bulan kembali menimbulkan efek buruk. Saya tidak mampu untuk sembuh
 secara total. Biasanya sekali melihat angka maka hal itu akan dengan mudah
 saya pahami, dan pelajaran ilmu pengetahuan pun saya anggap seperti sedang
 mengemudikan sepeda. Tetapi saat itu semua semuanya membingungkan saya.
 Saya menjadi bodoh.
 Saya ditempatkan di rumah negara, karena orang tua saya tidak lagi
 memiliki hak untuk merawat saya. Saya menjadi terapung-apung tanpa arah.
 Saya berhenti sekolah, sungguh memalukan bagaimana ranking saya menjadi
 sangat rendah di beberapa mata pelajaran. Orang-orang tahu apa yang telah
 terjadi pada saya, tetapi saya terlalu malu untuk berhadapan dengan mereka.
 Ketika berumur tujuh belas tahun, saya pergi berlibur dengan keluarga
 saya ke Maroko. Saya mengetahui seberapa buruk orang tua saya kepada saya,
 dan saya tidak lagi hidup di rumah, tetapi saya masih mengharapkan kasih
 keluarga. Jadi saya memberi mereka kesempatan dan pergi bersama mereka.
 Saya mengetahui risikonya. Saya mengemasi kopian passport dan akta
 kelahiran saya, sejumlah uang ekstra, dan rincian kontak dengan kedutaan
 Inggris di Maroko. Saya khawatir bahwa mereka akan mencoba menahan saya
 dengan paksaan di Maroko.
 Hal itu tidak hanya menjadi satu-satunya kekuatiran saya. Saya tidak
 mengenakan jilbab saat itu, dan berpakaian sebagaimana saya inginkan. Pada
 liburan itu, saya diperkosa oleh sepupu saya. Ketika dia menyelesaikan
 perbuatannya, dia memandang saya dan berkata bahwa saya tidak boleh
 memberitahukan siapapun karena tidak seorangpun akan mempercayai saya,
 dan cara saya berpakaian menegaskan orang tidak akan menyalahkan dia.
 Saya tahu dia benar. Saya menangis sampai tertidur selama waktu saya
 ada di sana. Tidak seorangpun mengerti mengapa saya menjadi penyendiri, atau
 mengapa saya membuat paman saya mengawal saya kemana pun – meskipun
 paman saya tidak mengetahui alasannya. Saya hanya membutuhkan seseorang
 untuk menemani saya.
 Hal yang paling buruk adalah bahwa beberapa tahun kemudian saya
 memberitahukan kepada kakak saya apa yang saya alami. Saya perlu untuk
 memberitahu seseorang; saya membutuhkan seseorang untuk mengatakan
 kepada saya bahwa hal tersebut bukan kesalahan saya. Kakak saya pergi dan
 memberitahu orang tua saya. Mereka tidak mempercayai saya. Ayah saya
 membentak saya, dan ibu tiri saya mengatakan kepada saya untuk menganggap
 hal itu sebagai keberuntungan karena pria itu adalah seorang anak muda yang
 baik. Tidak ada yang menyakitkan selain hal tersebut…setidaknya belum.
 Saya menghabiskan waktu tujuh tahun melakukan apa yang saya
 inginkan, pergi kemana saya mau. Berpakaian seperti apa yang saya kehendaki.
 Tetapi saya tetap seorang Muslim di dalam hati. Saya hanya menganggap diri
 saya sendiri sebagai seorang Muslim yang tidak melakukan kewajibannya. Saya
 punya persoalan, dan meskipun ayah saya sangat kejam kepada saya, saya
 masih berusaha memperoleh kebanggaan dan penerimaannya.
 Saya bertemu dengan mantan suami saya ketika berumur dua puluh
 tahun. Saya berada di sebuah stasiun pengisian bahan bakar dan kami mulai
 berbincang-bincang. Dia terlihat sangat baik dan sopan, dan memiliki senyum
 yang manis. Dia juga seorang Maroko, dimana amat sempurna karena saya
 masih menginginkan ayah saya untuk mengasihi saya. Dia mengajak saya
 berkencan, dan saya menerimanya. Kami memiliki saat yang indah, dan hal itu
 berlanjut dengan kami bertemu satu sama lain ketika saya memiliki waktu luang
 dari pekerjaan.
 Ia mengatakan kepada saya bahwa dia bekerja (kemudian saya ketahui
 bahwa dia berbohong). Ia biasanya meletakkan kepala saya di pangkuannya dan
 membelai rambut saya; dia penuh kasih sayang dan pengertian. Saya terhanyut.
 Bagi seseorang yang merasa tidak dikasihi selama hidup, saya akhirnya berpikir
 bahwa saya telah menemukannya.
 Enam bulan pertama pertemuan diantara kami sangatlah spesial. Saya
 menghargai kenangan tersebut meskipun saat ini saat mengingatnya kembali
 terasa menyakitkan.
 Kami menikah, dan saya hamil saat berumur dua puluh satu tahun. Dan
 saat itulah saya menemukan siapa suami saya sebenarnya. Jika dulu ia
 menyambut saya dengan kebaikan, sekarang cercaan keluar dari mulutnya
 setiap jam, setiap hari. Dimana dulu dia sangat penyayang, dia sekarang
 mengolok-olok saya, dan mengatakan kepada saya bahwa orang seperti saya
 tidak layak dikasihi. Dimana seharusnya kami menikmati malam di bioskop, atau
 di sebuah restoran, sekarang saya tidak diijinkan untuk pergi kemanapun, dan
 dia merasa tidak tertarik, sebagaimana dia menyebutnya, “ omong kosong
 Barat”.
 Saat pertama dia memukul saya, yang ia lakukan hanyalah sebuah
 tamparan. Saya mengatakan bahwa itu hanya sebuah tamparan, karena saya
 tumbuh dengan penyiksaan pada masa lalu.
 Saya memiliki rumah sendiri pada waktu itu, bukan milik saya, tetapi
 disediakan bagi saya oleh dewan. Rumah itu kecil tetapi itu adalah rumah, dan
 ia seharusnya tinggal di sana bersama saya.
 Penyiksaan menjadi bertambah buruk. Dia memanggil nama saya karena
 tidak memakai jilbab, jadi saya mengenakannya untuk membuatnya berhenti
 menyiksa saya. Tetapi tetap saja dia tidak berhenti. Dia semakin buruk; dia
 mulai menendang, mencekik, dan memukul saya.
 Ketika usia kehamilan anak pertama saya delapan bulan, dia pulang ke
 rumah dengan sangat marah. Saya membukakan pintu untuk menyambutnya
 dan dia menendang saya tepat melalui pintu ganda rumah kami. Tidak masalah
 bahwa saya hamil darinya; tetapi yang ia lakukan sungguh menyakitkan bahwa
 dia menendang saya di perut dengan tidak memperhatikan anaknya yang
 sedang saya kandung.
 Saya sedih ketika merasakan bahwa saya layak mendapatkannya.
 Sungguh mengherankan bahwa saya merasa bahwa saya pantas diperlakukan
 seperti itu, jika demikian dimanakah sesungguhnya harga diriku?
 Juga, berdasarkan Islam, saya merasa wajib untuk tetap berusaha
 menghadapinya. Saya melahirkan, tetapi tidak ada yang berjalan dengan baik.
 Saya masih tinggal bersamanya, meskipun saya tidak memiliki kuasa atas diri
 saya sendiri. Dia tidak mengizinkan saya untuk mendengarkan musik, menonton
 televisi, membaca buku-buku (membaca buku adalah kegemaran dan menjadi
 pelarian saya).
 Saya tidak diijinkan bertemu dengan teman-teman saya kembali. Saya
 menjadi terkurung di rumah sebab ia merasa bahwa saya adalah setengah
 Inggris, dan saya mirip seperti orang yang tidak beriman.
 Saat dia memukul saya, dia selalu mengatakan bahwa dia diijinkan
 melakukannya; inilah mengapa saya menjadi sangat marah ketika orang Muslim
 mencoba berkata bahwa ayat tersebut berada di sana sebagai alat untuk
 pencegahan. Allah sendiri di dalam Quran mengijinkan seorang suami untuk
 memukul isterinya.
 Saya tidak akan membuat anda bosan mendengarkan cerita panjang
 tentang keseluruhan waktu delapan tahun yang saya habiskan bersamanya,
 tetapi saya akan mengambil beberapa kejadian untuk menegaskan hal ini.
 Hari dimana Menara Kembar WTC jatuh, dia sangat gembira. Dia
 merayakan kematian semua orang-orang itu; ibunya menyelenggarakan pesta
 besar dan banyak orang Muslim datang ke rumahnya untuk merayakannya.
 Saya harus duduk di sana dan menonton mereka memutar ulang peristiwa
 serangan itu berulang kali. Saya sangat marah dalam hati. Dia tidak dapat
 melihat kebencian saya kepadanya karena ia menyukai kematian. Ketika kami
 pulang ke rumah dia menghukum saya dan menyebut saya pecinta Yahudi.
 Orang ini melakukan hal-hal yang mengerikan kepada saya selama saya
 menikah dengannya. Dia mencoba melarikan saya dengan mobilnya dan
 melemparkan saya keluar dari mobil yang bergerak. Dia memukul saya di depan
 anak laki-laki saya.
 Dia mengatakan kepada saya setiap waktu betapa hinanya diriku
 dibandingkan dirinya karena saya bukan seorang Muslim yang murni, hanya
 setengah. Saya mencoba dengan keras untuk menyenangkannya; saya
 melemparkan diri saya ke dalam kepercayaannya dan mencoba membuktikan
 diri saya berharga. Tetapi tidak ada satupun yang saya lakukan dipandang
 cukup baik. Saya berdoa kepada Allah untuk menyelamatkan saya, tetapi tidak
 ada Allah, jadi tidak ada seorang pun yang menjawab.
 Ketika saya mengetahui bahwa saya mengandung seorang anak
 perempuan, saya tahu bahwa ini adalah waktunya untuk pergi. Saya tidak
 menginginkan puteri saya tumbuh dengan pemikiran bahwa dia tidak lebih
 berharga dibanding laki-laki. Atau berpikir bahwa tidak mengapa seorang lakilaki
 memukul wanita. Saya tidak mau dia menjadi malu karena saya.
 Sebagai ibunya saya menjadi teladannya. Teladan seperti apakah yang
 saya miliki jika saya tetap tinggal bersama suami saya? Jadi pada suatu hari,
 saya mengemasi barang-barang ketika suami saya pergi, dan saya melarikan
 diri. Saya mengambil anak-anak saya bersama saya (tidak seperti yang
 dilakukan ibu saya).
 Hari tersebut akan selalu saya ingat hingga hari kematian saya. Saya
 menghentikan sebuah taksi, dan kami masuk ke dalamnya. Saya meninggalkan
 dia dan saya sangat senang. Saya melepaskan jilbab ketika kami berada pada
 jarak yang aman dari rumah, dan saya melemparkannya keluar melalui jendela
 taksi. Anda harus melihat muka dari sopir taksi; dia sangat terkejut sehingga
 tidak bisa mengatakan apapun.
 Saya membiarkan mantan suami saya berhubungan dengan anak-anak
 saya untuk sementara waktu, tetapi saya menghentikannya sekarang, karena
 dia mengajarkan kepada mereka kebohongan Islam seperti biasanya, dan anakanak
 menjadi sulit diatasi.
 Sesungguhnya, kebebasan saya dimulai ketika saya menemukan Faith
 Freedom International (FFI), sebuah organisasi yang mendukung para Muslim
 yang tengah berharap untuk meninggalkan keimanannya. FFI membuka mata
 saya pada cara-cara baru dalam melihat kehidupan. Dan sekarang saya
 berharap bahwa keadaan menjadi lebih baik dari sekarang dan seterusnya. Bagi
 kami mantan Muslim, memang tidaklah mudah untuk membuang semua sisa
 pencucian otak yang telah kami terima sejak masih anak-anak. Saya masih
 menilai diri saya sendiri dan masih menemukan saat-saat dimana saya
 merenungkan kembali apakah saya telah melakukan hal yang benar. Tetapi
 kemudian saya hanya perlu mengambil Quran untuk mengingatnya dan saya
 merasa lebih baik. Pada suatu hari saya tidak mau memiliki kenangan itu lagi.
 Saya mulai kuliah, saya memilih apa yang ingin saya kenakan, saya
 memilih bagaimana saya harus menjalani hidup. Saya membawa anak-anak
 saya menjauh dari pengaruh Islam yang merusak. Saya berharap banyak orang
 Muslim dapat meninggalkan Islam tahun ini dan tahun-tahun berikutnya sampai
 tidak seorang pun tersisa

===============

creta2 penganiayaan kaya gene banyak skali di internet. jutaan cewe eslam disiksa suami gara2 olo suruh pukul bini lo.

n suami2 yang melakukan kekerasan dalem rumah tangga alias KDRT, ga pernah merasa salah, palagi berdosa saat menyiksa bininye sendiri.

ESLAM JELAS AGAMA SETAN KARNA MENGHALALKAN KEKERASAN N TEROR DALEM SEGALA HAL. HA...7X

ESLAM ADALAH SATU2NYE AGAMA YANG DIRIDHOI IBLIS/SETAN/OLO WTS. HA...7X


----------------


My blog is now at the click of a variety of countries including Indonesia, the United States, Britain, Germany, France, Russia, Canada, India, Japan, Saudi Arabia, United Arab Emirates, Syria, Egypt, Australia, New Zealand, Malaysia, Brunei Darussalam, Hongkong, Singapore, China, Taiwan, Argentina, Colombia, Serbia, Morocco, Algeria, Brazil, Moldova, Macedonia, Netherlands, Spain, South Korea, Timor Leste, Norway, Belgium, Romania, Vietnam, Bulgaria, Albania, Azerbaijan, Mexico, Venezuela, Swedish, Irish, Turkey, Italy, Cile, Austria, and others.

Here's a list of my blogs:



so help me with prayer and purchase books written by me.

Here's a list of my books: 

BELI BUKU GUE NYOK. ha...7x
Biar gue bisa full time menyebarkan injil.
BIAR NAMA YESUS DITINGGIKAN DAN DIMULIAKAN DI SELURUH BUMI. HA...7X

Filipi 2:5-11
5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 
7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 
10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 
11 dan segala lidah mengaku: ''Yesus Kristus adalah Tuhan,'' bagi kemuliaan Allah, Bapa! 

TRANSFER UANG PEMBELIAN BUKU/HAK LISENSI KE :

Richard Nata
Bank Central Asia, Tbk, Indonesia
002-157-6394

SETELAH ITU KIRIM EMAIL DISERTAI BUKTI TRANSFER KE  
guerich007@gmail.com

ATAU SMS KE 62-8889910822 ( SMS ONLY, NO PHONE CALL ).

Jangan lupa, beritahukan buku apa yang anda beli dari kami.

LORD JESUS BLESS YOU


AMEN


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...