Friday, May 1, 2015

pencipta tidak sama dengan ciptaannya.


=MANUSIA tidak sama dengan KURSI, SANDAL atau PERIUK=
Adakah tukang kayu menganggap kursi buatannya sebagai ANAKNYA?
Adakah tukang sandal menganggap sandal buatannya sebagai ANAKNYA?
atau
Pernahkah tukang periuk menganggap periuk buatannya sebagai ANAKNYA?
Tapi TUHAN menganggap manusia sebagai ANAKNYA.
Yesaya 43:6 Aku akan berkata kepada utara: Berikanlah! dan kepada selatan: Janganlah tahan-tahan! Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi,
Yeremia 3:19 Tadinya pikir-Ku: "Sungguh Aku mau menempatkan engkau di tengah-tengah anak-anak-Ku dan memberikan kepadamu negeri yang indah, milik pusaka yang paling permai dari bangsa-bangsa. Pikir-Ku, engkau akan memanggil Aku: Bapaku, dan tidak akan berbalik dari mengikuti Aku.
Kerapkali muslim mengatakan, "apakah sama yg membuat dengan yg dibuat? Tukang sandal tidak sama dengan sandal...!"
Dengan demikian, muslim menyatakan bahwa dirinya selaku manusia adalah serupa dengan sandal, yg adalah BENDA MATI, tidak ada ROH, tidak bisa merasakan apapun, tidak punya fikiran dan keinginan.
Itulah memang yg dikehendaki LUCIFER, yg dalam Islam disebut "allah" (=djjl), agar manusia menanggalkan JATI DIRI yg sesungguhnya, dan menjadikan dirinya serupa "sandal" yg tidak sama dengan "tukang sandal".
LUCIFER alias SANG ULAR bernama allah ini mengatakan:
QS 19:92-93
Dan tidak layak bagi Allah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah sebagai BUDAK.
QS 19:88-91
Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak."
Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda'wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.
Setelah mengetahui WATAK allah di atas, masihkah kita beranggapan bahwa sang ULAR itu adalah BAPA kita, PENCIPTA kita?
TUHAN menciptakan tubuh kita, dan melahirkan roh kita untuk tinggal di dalam tubuh ini. Itulah sebabnya kita adalah ANAK-ANAK TUHAN. Kita sama dengan Tuhan, punya rasa, punya hati, punya fikiran, punya keinginan. Sebab APA YG DILAHIRKAN adalah SAMA dengan YANG MELAHIRKAN.
Tetapi sandal, periuk dan kursi, tentu saja tidak sama dengan yang menciptakan, karena sandal, periuk dan kursi tidak dilahirkan.
Seorang tukang kursi tidak akan mengatakan kursi yg telah dibuatnya sebagai anaknya, kecuali ia orang gila. Tetapi tukang kursi akan mengakui apa yang dilahirkan oleh istrinya sebagai anaknya, karena apa yang dilahirkan itu berasal dari dirinya, serupa dan segambar dengan dirinya. Kelak setelah dewasa, sang anak akan dapat bercakap-cakap dengan dia, dan bahkan berbantah-bantahan dengan dirinya.
Lalu bagaimana caranya Tuhan melahirkan? Apakah Tuhan seperti manusia dan makhluk biologis, yg harus beristri dulu (kawin dulu) agar bisa memiliki anak?
Muslim dengan fikiran kacaunya dan penuh ketidakkonsistenan kerap menyamakan Tuhan dengan manusia, padahal sebelumnya mati-matian menentang Tuhan sama dengan manusia.
Amoeba bisa mempunyai anak tanpa kawin, mengapa Tuhan tidak bisa?
Tuhan adalah Roh. Bagaimana cara kita memahami roh yg semula satu menjadi banyak? Kita bisa analogikan roh dengan api. Kita mempunyai satu perumpamaan. Di dalam sebuah ruangan sudah terdapat sebatang lilin yg menyala. Kemudian anda siapkan 10 batang lilin baru yg belum menyala. Bagaimana caranya anda membuat 10 lilin ini juga memiliki api di atasnya? Anda dekatkan sumbu lilin-lilin baru tadi kepada api lilin yg sudah tersedia, maka api yg semula satu "beranak" menjadi banyak.
Apakah anda perlu mengawinkan api terlebih dulu supaya api beranak?
Tidak, bukan?
Seperti itulah gambaran mengenai Roh Tuhan melahirkan anak-anak di surga (roh malaikat) dan di bumi (roh manusia).
Tentu saja, Tuhan lebih dari api. Jika api bisa beranak tanpa kawin, apalagi Tuhan?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...