Friday, March 21, 2014

Was Jesus Born on 25 December?

Was Jesus Born on 25 December?
One of the more recent Christmas traditions has been the repeated assertions, on the Internet, in the press and from some pulpits, that the 25th December could not have been Jesus' actual birthday.

Examining the Historical Record

According to this position, He could have been born on almost any other day of the year, except 25 December. It is asserted that 25 Dec. had originally been the pagan winter solstice festival, which had been taken over by the Christians to promote the new faith. In doing so, many of the old pagan customs crept into this new Christian celebration. Numerous articles, booklets, radio programmes and even T.V. documentaries have been produced asserting this position.


However, this opinion is itself based upon historical myths, incomplete research and ignorance of history.

Christmas Predates Constantine

Christians have celebrated the Incarnation and nativity of the Lord Jesus on December 25 since the earliest centuries. Long before the conversion of Constantine in AD312, and the end of the persecution by the Roman Empire, 25 December was already established as a venerable and tenured tradition for celebrating Christmas Day. 

Christmas Predates Catholicism

The assertion, therefore, that Christmas is a creation of the Roman Catholic church and that it has something to do with the mass, is false. The tradition of Christmas, the Christ Festival, long pre-dates the establishment of what became Roman Catholicism.

Pagan Attempt to Hijack Christmas

It is true that one Roman Emperor, Aurelian, did attempt to inaugurate 25 Dec. as a pagan festival "the birth of the unconquered Sun." This was in AD 274. Aurelian was attempting to breathe new life into a declining paganism devastated by the advances of Christianity. However, the Roman pagan festival was instituted after the Christians had already been celebrating the birth of Christ on that day for many decades. Their pagan festival was an attempt to create an alternative tradition, which already was associated with the birth of Christ, and of some significance to the Roman Christians. This is not a case of Christians imitating the pagans. The pagans were attempting to imitate the Christians, by celebrating the Sun on the day when Christians celebrated the Son of God.

Comparing Calendars

Already in the 2nd Century, church councils had attempted to establish the actual time of Christ's birth. This was tied up with discussions over the date of Easter, the commemoration of Christ's Death and Resurrection. Because Scripture identifies Christ's death at the time of the Jewish Passover, the time of year could be known with precision. However, differences in the Jewish, Greek and Latin calendars, and the discrepancies between the Lunar (moon) and Solar (sun) date keeping caused intense debate over whether to observe Easter on a fixed date, no matter which day it fell on, or to ensure that it always fell on a Sunday, the first day of the week, as identified in the Gospels.

The Annunciation

On the basis of records available to them at that time, the early Church established 25 March as the Feast of Annunciation to mark when the Angel first appeared to Mary, and as the date of Christ’s conception. They also came to consensus that Christ was born 9 months later - on 25 December.

25 March Used to be New Year 's Day

It needs to be noted that, from the earliest days of the Roman Imperial calendar, the New Year was celebrated on 25 March - the first day of spring (in the Northern hemisphere). This is why September, October, November, December derived from the Latin words, Septem (7), Octo (8), Novem (9), and Decem (10).

The New, New Year 's Day

The celebration of the New Year on 1 January dates back to the adoption of the Gregorian calendar in 1600, in Scotland and 1752, in England. From the 17th Century, 1 January began to be celebrated in Christian nations as a day of Renewal - a renewal of vows, vision and vocation. It was on this day that guild members took their annual pledge, that husbands and wives renewed their marriage vows, and young believers recommitted themselves to walk in the Grace of the Lord. 

In the Darkness

25 December occurs in the northern hemisphere in the darkest time of the year. 25 Dec is during the longest nights, and shortest days of the year. So, the early Church establishing that the Incarnation, when Christ was conceived by the power of the Holy Spirit, occurred on the first day of spring, 25 March, and that His Advent occurred when He was born at the darkest time, during the longest night of the year, 25 December.

A Light Has Shone

"The people who walked in darkness have seen a great light; those who dwelt in the land of the shadow of death, upon them a light has shined… For unto us a Child is born, unto us a Son is given; and the government will be upon His shoulder. And His Name shall be called, Wonderful, Counsellor, Mighty God, Everlasting Father, Prince of Peace. Of the increase of His Government and peace there will be no end." Isaiah 9:2-7

New Covenant

1 January, as the first day of the New Year, follows 8 days after the birth of Christ, on the day when he would have been circumcised and come officially under the Covenant. 

An Age of Presumption

It is remarkable how so many people today, with no historical research, and next to no knowledge of the historical realities and complexities of 2,000 years ago, can assume that they know better than learned men and Church councils convened much closer to the events in question for the express purpose of ascertaining the most accurate dates of Christ's birth, Crucifixion and Resurrection. But then, we live in a world where everything is being questioned - even God's Law and the Word of God.

Victory Over Paganism

Instead, we should celebrate that Christ's Coming did replace desperation with joy, oppression with celebration, human sacrifices with Christmas Festivals; Christ replaced Baal, Molech, Apollo, Mars, and Thor. At the time of greatest darkness, Christ came. "The Light shines in the darkness, and the darkness did not comprehend it." John 1:5
Christmas is a time to celebrate Christ's victory over paganism. New Year's Day is a time to renew our vows, vision and vocation, and the first day of spring to celebrate the Life of Christ.
Dr. Peter Hammond 
- See more at:

sumber :

Apakah YESUS Lahir Tanggal 25 Desember?

Di internet, pers, dan di beberapa mimbar, disampaikan berulangkali bahwa 25 Desember yang merupakan salah satu tradisi Kristen tidak mungkin merupakan hari kelahiran Yesus. Benarkah demikian?
Oleh: Dr. Peter Hammond
Menyelidiki Catatan Sejarah
Berdasarkan pendapat ini, Yesus seolah dinyatakan boleh dan bisa dilahirkan pada tanggal manapun juga kecuali tanggal 25 Desember! Telah diyakini sejak semula bahwa hari tersebut adalah perayaan musim dingin kaum pagan, yang kemudian diambil alih oleh orang-orang Kristen untuk mempromosikan agama baru mereka. Dengan melakukan hal ini banyak kebiasaan kuno pagan yang juga masuk ke dalam perayaan Kristen tersebut. Tidak sedikit artikel, buklet, bahkan program radio dan program dokumenter televisi yang telah diproduksi untuk mendukung pendapat ini.
Namun demikian, pendapat ini sendiri berdasarkan pada mitos-mitos historis, asumsi dan riset yang tidak lengkap dan ketidakpedulian pada kenyataan sejarah.
Natal Mendahului Konstantin
Orang Kristen telah merayakan inkarnasi dan kelahiran Tuhan Yesus pada 25 Desember SEJAK ABAD PERTAMA, jauh sebelum pertobatan Konstantin pada 312 M, dan pada akhir masa penganiayaan oleh kekaisaran Roma, 25 Desember telah ditetapkan sebagai tradisi yang dijunjung untuk merayakan hari Natal.
Natal Mendahului Katolikisme
Oleh karena itu, pandangan bahwa Natal adalah ciptaan gereja Katolik Roma dan bahwa Natal berkaitan dengan misa, adalah keliru. Tradisi Natal, perayaan Kristus, jauh mendahului penetapan Katolik Roma.
Pagan Berusaha Membajak Natal
Memang benar bahwa Kaisar Roma, yaitu Aurelian, berusaha untuk menetapkan 25 Desember sebagai perayaan pagan, yaitu “kelahiran Sang Surya yang tidak terkalahkan”. Dan ini terjadi pada tahun 274 M. Kaisar Aurelian berusaha untuk menghembuskan sebuah kehidupan yang baru ke dalam paganisme yang sedang menurun oleh karena kemajuan perkembangan kekristenan. Namun demikian, perayaan pagan Roma tersebut ditetapkan SETELAH orang Kristen merayakan kelahiran Kristus pada hari itu selama berabad-abad. Perayaan pagan mereka merupakan sebuah upaya untuk menciptakan sebuah tradisi alternatif, yang diasosiasikan dengan kelahiran Kristus, dan yang mempunyai kaitan dengan orang Kristen Roma. Ini bukanlah soal orang Kristen mengimitasi kaum pagan, melainkan kaum paganlah yang berusaha mengimitasi orang Kristen, dengan merayakan Sang Surya pada hari dimana orang Kristen merayakan Putra Tuhan.
Membandingkan Penanggalan
SEJAK ABAD KE-2, konsili-konsili gereja telah berusaha menetapkan tanggal kelahiran Kristus yang sebenarnya. Ini berkaitan dengan diskusi-diskusi mengenai penanggalan Paskah, yaitu peringatan kematian dan kebangkitan Kristus. Oleh karena Alkitab mengidentifikasi kematian Kristus bersamaan dengan Paskah Yahudi, yang mempunyai tanggal yang pasti. Namun demikian, perbedaan-perbedaan dalam penanggalan Yahudi, Yunani dan Latin, dan juga perbedaan-perbedaan antara penanggalan-Bulan dan penanggalan-Matahari, tetap mendatangkan perdebatan yang intens mengenai apakah harus merayakan Paskah pada tanggal yang pasti/tetap. Yaitu dengan tidak mempersoalkan jatuhnya pada hari apa, ataukah memastikan bahwa hari raya itu selalu jatuh pada hari Minggu, yaitu hari pertama dalam minggu itu, seperti yang disebutkan dalam Injil.
Anunsiasi (Maklumat Malaikat)
Berdasarkan catatan-catatan dan perhitungan yang ada pada mereka pada waktu itu, gereja mula-mula menetapkan 25 Maret sebagai hari raya Anunsiasi untuk memperingati lawatan malaikat kepada Maria, dan sebagai tanggal konsepsi Kristus (pembentukan jabang bayi dalam rahim Maria). Mereka bersepakat bahwa Kristus dilahirkan 9 bulan kemudian, yaitu pada 25 Desember.
25 Maret Dahulunya Adalah Tahun Baru
Harus diingat bahwa sejak hari-hari pertama penanggalan kekaisaran Roma, Tahun Baru dirayakan pada tanggal 25 Maret, yaitu hari pertama musim semi (di belahan dunia utara). Inilah sebabnya mengapa September, Oktober, November, Desember berasal dari kata-kata latin Septem (angka 7), Okto (8), Novem (9) dan Desem (10).
Hari Baru, Dari Tahun Baru
Perayaan tahun baru pada 1 Januari berasal dari adopsi penanggalan Gregorian pada tahun 1600 di Skotlandia dan 1752 di Inggris. Sejak abad ke-17, 1 Januari mulai dirayakan oleh negara-negara Kristen sebagai hari pembaharuan–pembaharuan sumpah, visi dan tugas kerja. Pada hari inilah para anggota organisasi mengambil sumpah tahunan mereka, para suami dan istri memperbaharui janji nikah mereka, dan para pemercaya muda kembali mengambil komitmen untuk hidup dalam kasih karunia Tuhan.
Di Dalam Kegelapan 
25 Desember datang di belahan utara pada masa tergelap dalam tahun itu. Tanggal 25 Desember berada dalam hari-hari dengan malam-malam yang panjang dan siang hari yang singkat. Jadi, gereja mula-mula menetapkan bahwa inkarnasi, yaitu ketika Kristus dikandung oleh Roh Kudus, terjadi pada hari pertama musim semi yaitu 25 Maret, dan bahwa Advent-Nya jatuh pada saat ia dilahirkan dalam hari-hari tergelap, selama malam-malam yang panjang dalam setahun, tepatnya tanggal 25 Desember.
Terang Itu Telah Bersinar 
“Bangsa yang berjalan dalam kegelapan telah melihat terang yang besar, mereka yang berdiam di tanah bayangan kematian, terang telah bersinar atas mereka… Sebab, seorang anak telah lahir bagi kita, seorang putra telah diberikan kepada kita, dan pemerintahan ada di pundak-Nya, dan nama-Nya disebut Ajaib, Penasihat, Elohim yang Maha Perkasa, Bapa Yang Maha Kekal, Raja Damai. Dalam hal perluasan pemerintahan-Nya, dan dalam hal damai sejahtera, tidaklah berkesudahan”  Yesaya 9:2-7.
Perjanjian Baru
1 Januari, sebagai hari pertama dalam tahun yang baru, yaitu 8 hari setelah kelahiran Kristus, hari dimana Ia disunat dan secara resmi berada di bawah ikatan Perjanjian.
Abad yang Getol Berasumsi
Sangat menakjubkan melihat betapa banyak orang dewasa ini, tanpa riset historis, dan kurang mengetahui realita-realita dan kompleksitas sejarah 2000 tahun lalu, dapat dengan mudah berasumsi bahwa mereka lebih tahu dari kaum terpelajar dan konsili-konsili gereja yang lebih dekat dengan peristiwa-peristiwa tersebut, dan mempertanyakan tujuan penetapan tanggal yang paling akurat untuk kelahiran, penyaliban dan kebangkitan Kristus. Namun ternyata, kita hidup dalam dunia dimana segala sesuatunya dipertanyakan – bahkan hukum dan firman Tuhan sekalipun.
Kemenangan Atas Paganisme
Alih-alih, kita harus merayakan kedatangan Kristus yang menggantikan keputusasaan dengan sukacita, penindasan dengan perayaan, pengorbanan manusia dengan perayaan-perayaan Natal; Kristus menggantikan Baal, Molokh, Apollo, Mars, dan Thor dalam masa kegelapan besar, Kristus datang. “Terang itu bercahaya dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yohanes 1:5)
Natal adalah saat merayakan kemenangan Kristus atas paganisme. Tahun Baru adalah saat untuk memperbaharui janji-janji, visi dan pekerjaan kita, dan hari pertama musim semi untuk merayakan hidup Kristus.

Lihat selengkapnya di:


Para skeptikus sering mengkritik Natal pada tanggal 25 Desember hanya mendasarkan  kritiknya menurut beberapa fenomena dan asumsi yang spekulatif. Salah satunya adalah bahwa tradisi Ibrani dikatakan tidak mengistimewakan peringatan akan hari kelahiran seseorang, “Tidak heran, Yesus Kristus tidak pernah memerintahkan murid-muridnya untuk merayakan hari kelahirannya, tetapi justru untuk mengenang hari kematiannya. Ini sesuai dengan pendapat Raja Salomo : “… Hari kematian lebih baik daripada hari kelahiran” (Pengkhotbah 7:1).
JAWAB: Awas, Yesus sekalipun memerintahkan pengikutnya untuk mengingat-ingat kematianNya, namun BUKAN menyuruh mereka memperingati TANGGAL HARI wafatNya. Artinya, peringatan Yesus bukan dirujukkan khusus kepada “fisiknya” hari, tanggal dan tahun, melainkan pada MAKNA EVENT pengorbanan diriNya diatas kayu salib, demi menebus dosa manusia yang upahnya adalah kematian yang pasti. Bedakan waktu dan hari. Ada waktu yang diperlukan  untuk peringatan, namun bukan hari tanggal yang dimutlakkan!
Jangankan hari dan tanggal, Yesus bahkan tidak memandang penting “fisiknya” Bait Tuhan di Yerusalem yang begitu rupa dikramat-kramatkan oleh orang-orang Yahudi. Ia menjelaskan kepada perempuan Samaria tentang makna rohaniahnya yang sejati dan kekal:
“Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.  Elohim itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (Yohanes 4:21-24).
Dan Yesus malahan menubuatkan kehancuran fisik Bait ini, “semuanya akan diruntuhkan” (Matius 24:2), dan itu betul terjadi di tahun 70 M, demi meniadakan orientasi fisikal yang bisa menjadi pemberhalaan umat (seperti yang terjadi dengan Batu Hitam di Baitullah Mekah). Yesuslah yang harus menjadi pusat kesakralan ketika Ia menyatakan diriNya “melebihi Bait Elohim” dan Dia adalah pula “Tuhan atas Hari Sabat” (Matius 12:6,8). Dan disinilah Muslim sering salah memahami Perayaan Natal, seolah orang Kristen harus mutlak menetapkan hari dan tanggal yang pasti identik dengan waktu kelahiran Yesus, dan hanya disaat itulah Natal boleh dirayakan! Ini semua adalah kebodohan yang ditolak Yesus.
Perayaan sukacita Natal tidak mengharuskan jatuh pada  hari dan tanggal mutlak kelahiran Yesus. Andaikata harus mutlak begitu, maka secara konsekwen itu berarti pula bahwa orang Kristen juga tidak dibolehkan merayakan Natal diluar jam dan bahkan detik kelahiran Sang Mesias! Itu hanyalah bentuk kesepakatan diantara umat dalam pendekatan hari H nya, yang sama halnya dengan pendekatan perayaan Maulid Muhammad. Perayaan Maulid Nabi bahkan dimulai di masyarakat Islam jauh setelah Muhammad wafat. Sampai sekarang ada pelbagai umat Muslim yang merayakannya pada tanggal-tanggal yang berbeda karena tidak tahu persis tanggal kelahiran nabinya. Bahkan ada yang tidak merayakannya samasekali (seperti di Arab Saudi) karena mengganggapnya sebagai sebuah bid’ah!  Jadi, apa alasan Muslim sejatinya untuk mencerca perayaan Natal pada 25 Desember?
Akhirnya, skeptikus lainnya menunjuk pula kepada adanya para gembala yang tinggal di padang menjaga ternaknya di waktu malam. Ini mereka artikan sebagai kemustahilan untuk menjaga ternak di musim dingin 25 Desember!
JAWAB: Dari mana orang bisa memastikan bahwa tak ada aktifitas penggembalaan apapun di musim dingin? Tinggal di padang tidak harus diartikan mereka tak punya kandang terdekat atau gubuk buatan tempat beristirahat. Dan seberapa dingin yang Tuhan Semesta tidak bisa mengaturkan cuacanya bagi malam Natal YESUS, hari yang akbar dimana Firman turun ”lahir/ nuzul”  menjadi manusia? Lihatlah betapa hangat cuacanya yang Tuhan telah  siapkan dimalam tersebut, “Dan tiba-tiba ada bersama malaikat itu sekumpulan bala tentara surga sambil memuji Elohim dan berkata,“Kemuliaan bagi Elohim di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan!” (Lukas 2:13-14)
Jelaslah bahwa perayaan Hari Natal bukanlah seperti yang umum disalah-fahami oleh teman-teman Muslim, dan samasekali tidak mengintrospeksi tentang perayaan Maulid Muhammad sendiri. Natal Yesus bukan hari yang harus disakralkan/ disakramenkan dengan memutlakkan hal-hal yang bersifat fisikal, termasuk hari, tanggal dan jam/detik yang di-pas-kan dengan kelahiran Kristus. Perayaan Natal adalah dalam spirit sukacita seperti yang telah dimaklumat-kan oleh para malaikat dari Sorga:
“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:11).
Dengan pusat dan kata kuncinya “Juruselamat, Kristus, Tuhan”. Sosok Penyelamat Dunia itulah yang telah lahir untuk segala umat manusia, dan itulah Kabar Baik yang pantas kita rayakan bersama! Apakah ada masalah tersembunyi?
Semua Natal harus terpusat kepada sosok Juruselamat tersebut, bukan fisik Bait dan Harinya. Yesus telah berkata yang merujukkan Bait dan HariNya semua kepada Sosok Pribadinya:
“YESUS menjawab dan berkata kepada mereka, “Hancurkanlah tempat suci ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” (Yoh 2:19)
“Disini (Yesus) ada yang melebihi Bait Elohim” (Matius 12:6).
“Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas Hari Sabat.” (Matius 12:8).

Artikel ini dipetik dari,

sumber :

copas dari katolisitas:
Ada banyak orang mempertanyakan, apakah
benar Tuhan Yesus Kristus lahir di dunia tanggal
25 Desember? Sejumlah orang kemudian
membuat banyak teori, yang seolah-olah ingin
menunjukkan bahwa hari raya Natal di tanggal
25 Desember berasal dari kebiasaan kafir.
Apakah benar demikian?
Keberatan dan tanggapan tentang perayaan
Natal 25 Desember
Berikut ini adalah penjelasan yang kami sarikan
dari buku karangan Taylor Marshall, The Eternal
City: Rome and Origins of Catholic Christianity,
yang dapat dibaca di link ini, silakan klik [teks
dalam kurung adalah tambahan dari Katolisitas]:
Gereja Katolik, setidaknya sejak abad kedua,
telah mengklaim bahwa Kristus lahir di tanggal
25 Desember. Meskipun demikian, ada banyak
pendapat bahwa Tuhan kita Yesus Kristus tidak
lahir pada tanggal itu. Berikut ini adalah tiga
macam keberatan yang umum terhadap tanggal
tersebut, dan tanggapan atas masing-masing
keberatan itu:
Keberatan 1: Tanggal 25 Desember dipilih untuk
mengganti festival pagan Romawi, yang
dinamakan Saturnalia. Saturnalia adalah festival
musim dingin yang populer, sehingga Gereja
Katolik dengan bijak menggantikannya dengan
perayaan Natal.
Tanggapan atas Keberatan 1: Saturnalia adalah
peringatan winter solstice , yaitu titik terjauh
matahari dari garis khatulistiwa bumi. Namun
demikian titik winter solstice jatuh pada tanggal
22 Desember. Memang benar bahwa perayaan
Saturnalia dapat dimulai sejak tanggal 17
Desember sampai 23 Desember. Tetapi dari
tanggalnya sendiri, tidak cocok [tidak ada
kaitannya dengan tanggal 25 Desember].
Keberatan 2: Tanggal 25 Desember dipilih untuk
menggantikan hari libur Romawi, Natalis Solis
Invicti, yang artinya, “Kelahiran dari Matahari
yang tak Terkalahkan.” [atau dikenal sebagai
kelahiran dewa matahari]
Tanggapan atas Keberatan 2: Pertama-tama,
mari memeriksa kultus Matahari yang tak
Terkalahkan. Kaisar Aurelian memperkenalkan
kultus Sol Invictus atau Matahari yang tak
Terkalahkan di Roma tahun 274. Aurelian
mendirikan pergerakan politik dengan kultus ini,
sebab namanya sendiri Aurelian, berasal dari
kata Latin aurora , yang artinya “matahari terbit”.
Uang logam koin masa itu menunjukkan bahwa
Kaisar Aurelian menyebut dirinya sendiri sebagai
Pontifex Solis atau Pontiff of the Sun (Imam
Agung Matahari). Maka Kaisar Aurelian
mendirikan kultus matahari itu dan
mengidentifikasikan namanya dengan dewa
matahari, di akhir abad ke-3.
Yang terpenting, tidak ada bukti historis tentang
adanya perayaan Natalis Sol Invictus pada
tanggal 25 Desember, sebelum tahun 354. Dalam
sebuah manuskrip yang penting di tahun 354,
terdapat tulisan bahwa tanggal 25 Desember
tertulis, “N INVICTI CM XXX.” Di sini N berarti
“nativity / kelahiran”. INVICTI artinya
“Unconquered/ yang tak terkalahkan”. CM
artinya, “circenses missus / games ordered/
permainan yang ditentukan/ diperintahkan.”
Angka Romawi XXX sama dengan tiga puluh.
Maka tulisan tersebut artinya ialah 30 permainan
yang ditentukan untuk kelahiran Yang tak
terkalahkan, pada tanggal 25 Desember.
Perhatikan bahwa di sini kata “matahari” tidak
disebutkan [Maka bagaimana dapat dipastikan
bahwa itu mengacu kepada dewa matahari?].
Selanjutnya, naskah kuno tersebut juga
menyebutkan, “natus Christus in Betleem Iudeae/
kelahiran Kristus di Betlehem, Yudea ” di tanggal
25 Desember itu.[ 1]
Tanggal 25 Desember baru menjadi hari
“Kelahiran Matahari yang tak terkalahkan” sejak
pemerintahan kaisar Julian yang murtad. Kaisar
Julian pernah menjadi Kristen, tetapi telah
murtad dan kembali ke paganisme Romawi.
Sejarah menyatakan bahwa Kaisar Julian itulah
yang menentukan hari libur pagan tanggal 25
Desember… Ini menyatakan apa?
Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa “Matahari
yang tak terkalahkan” bukanlah dewa yang
popular di kekaisaran Romawi [sebab sebenarnya
bukan dewa, tetapi suatu karakter yang
dihubungkan dengan kaisar tertentu.]…Lagi pula,
tradisi perayaan pada tanggal 25 Desember tidak
ada dalam kalender Romawi sampai setelah
Roma menjadi negara Kristen. Kelahiran Sang
Matahari yang Tak Terkalahkan adalah sesuatu
yang jarang dikenal dan tidak popular. Perayaan
Saturnalia yang disebut di atas lebih popular …
Sepertinya, lebih mungkin bahwa Kaisar Julian
yang murtad itu yang berusaha untuk
memasukkan hari libur pagan, untuk
menggantikan perayaan Kristen.
[Tambahan dari Katolisitas:
Maka penghubungan tanggal 25 Desember
dengan perayaan agama pagan, itu
sejujurnya adalah hipotesa. Silakan Anda
klik di Wikipedia, bahwa penghormatan
kepada dewa Sol Invictus di kerajaan
Romawi, itu dimulai tanggal 274 AD. Maka
penghormatan umat Kristen kepada Kristus,
Sang Terang Dunia (Yoh 9:5), itu sudah
ada lebih dulu daripada penghormatan
kepada dewa Sol Invictus/ dewa matahari
kerajaan Romawi. Nyatanya memang ada
sejumlah orang yang menghubungkan
peringatan kelahiran Yesus pada tanggal 25
Desember dengan perayaan dewa Sol
Invictus itu. Sumber Wikipedia itu sendiri
( klik di sini ) menyatakan bahwa hipotesa
ini secara serius layak dipertanyakan. Bukti
prasasti di zaman Kaisar Licinius,
menuliskan bahwa perayaan dewa Sol itu
jatuh tanggal 19 Desember. Prasasti
tersebut juga menyebutkan persembahan
kepada dewa Sol itu dilakukan di tanggal
18 November. (Wallraff 2001: 174–177).
Bukti ini sendiri menunjukkan adanya
variasi tanggal perayaan dewa Sol, dan
juga bahwa perayaannya tersebut baru
marak dilakukan di abad ke-4 dan 5, jauh
setelah zaman Kristus dan para Rasul.]
Keberatan 3: Kristus tidak mungkin lahir di bulan
Desember sebab St. Lukas menjabarkan bahwa
para gembala menggembalakan domba-domba
di padang Betlehem. Gembala tidak
menggembalakan pada saat musim dingin. Maka
Kristus tidak mungkin lahir di musim dingin.
Tanggapan terhadap Keberatan 3: Palestian
bukan Inggris atau Rusia atau Alaska. Betlehem
terletak di lintang 31.7 [dari garis khatulistiwa,
lebih dekat sedikit ke khatulistiwa daripada kota
Dallas, Texas di Amerika, 32.8]. Adalah masih
nyaman untuk berada di luar di bulan Desember
di Dallas, [maka demikian juga dengan di
Betlehem]. Sebab di Italia, yang terletak di garis
lintang yang lebih tinggi dari Betlehem,
seseorang masih dapat menggembalakan domba
di akhir bulan Desember.
Penentuan kelahiran Kristus berdasarkan Kitab
Penentuan kelahiran Kristus berdasarkan Kitab
Suci, terdiri dari 2 langkah. Pertama adalah
menentukan kelahiran St. Yohanes Pembaptis.
Langkah berikutnya adalah menggunakan hari
kelahiran Yohanes Pembaptis sebagai kunci
untuk menentukan hari kelahiran Kristus. Kita
dapat menemukan bahwa Kristus lahir di akhir
Desember dengan mengamati kali pertama dari
tahun itu, yang disebutkan oleh St. Lukas, St.
Zakaria melayani di bait Allah. Ini memberikan
kepada kita perkiraan tanggal konsepsi St.
Yohanes Pembaptis. Dari sini dengan mengikuti
kronologis yang diberikan oleh St. Lukas, kita
sampai pada akhir Desember sebagai hari
kelahiran Yesus.
St. Lukas mengatakan bahwa Zakaria melayani
pada ‘rombongan Abia’ (Luk 1:5). Kitab Suci
mencatat adanya 8 rombongan di antara 24
rombongan imamat (Neh 12:17). Setiap
rombongan imam melayani satu minggu di bait
Allah, dua kali setahun. Rombongan Abia
melayani di giliran ke-8 dan ke-32 dalam siklus
tahunan. Namun bagaimana siklus dimulai?
Josef Heinrich Friedlieb telah dengan meyakinkan
menemukan bahwa rombongan imam pertama,
Yoyarib, bertugas sepanjang waktu penghancuran
Yerusalem pada hari ke-9 pada bulan Yahudi
yang disebut bulan Av.[ 2 ] Maka masa
rombongan imamat Abia (yaitu masa Zakaria
bertugas) melayani adalah minggu kedua bulan
Yahudi yang disebut Tishri, yaitu minggu yang
bertepatan dengan the Day of Atonement, hari
ke-10. Di kalender kita, the Day of Atonement
dapat jatuh di hari apa saja dari tanggal 22
September sampai dengan 8 Oktober.
Dikatakan bahwa Elisabet mengandung
‘beberapa lama kemudian/ after these days ‘
setelah masa pelayanan Zakaria. Maka konsepsi
St. Yohanes Pembaptis dapat terjadi sekitar akhir
September, sehingga menempatkan kelahiran St.
Yohanes Pembaptis di akhir Juni, meneguhkan
perayaan Gereja Katolik tentang Kelahiran St.
Yohanes Pembaptis tanggal 24 Juni.
Buku Protoevangelium of James dari abad ke-2
menggambarkan St. Zakaria sebagai imam besar
dan memasuki tempat maha kudus…. dan ini
mengasosiasikan dia dengan the Day of
Atonement, yang jatuh di tanggal 10 bulan Tishri
(kira-kira akhir September). Segera setelah
menerima pesan dari malaikat Gabriel, Zakaria
dan Elizabet mengandung Yohanes Pembaptis.
Perhitungan empat puluh minggu setelahnya,
menempatkan kelahiran Yohanes Pembaptis di
akhir Juni, meneguhkan perayaan Gereja Katolik
tentang Kelahiran St. Yohanes Pembaptis tanggal
24 Juni.
Selanjutnya… dikatakan bahwa sesaat setelah
Perawan Maria mengandung Kristus, ia pergi
untuk mengunjungi Elisabet yang sedang
mengandung di bulan yang ke-6. Artinya umur
Yohanes Pembaptis 6 bulan lebih tua daripada
Yesus Kristus (lih. Luk 1:24-27, 36). Jika 6
bulan ditambahkan kepada 24 Juni maka
diperoleh 24-25 Desember sebagai hari kelahiran
Kristus. Jika tanggal 25 Desember dikurangi 9
bulan, diperoleh hari peringatan Kabar Gembira
(Annunciation) yaitu tanggal 25 Maret… Maka
jika Yohanes Pembaptis dikandung segera
setelah the Day of Atonement, maka tepatlah
penanggalan Gereja Katolik, yaitu bahwa
kelahiran Yesus jatuh sekitar tanggal 25
Selain itu Tradisi Suci juga meneguhkan tanggal
25 Desember sebagai hari kelahiran Tuhan
Yesus. Sumber dari Tradisi tersebut adalah
kesaksian Bunda Maria sendiri. Sebagai ibu tentu
ia mengetahui dengan rinci tentang kelahiran
anaknya [dan ini yang diteruskan oleh para rasul
dan para penerus mereka]. Bunda Maria pasti
mengingat secara detail kelahiran Yesus ini yang
begitu istimewa, yang dikandung tidak dari benih
laki-laki, yang kelahirannya diwartakan oleh para
malaikat, lahir secara mukjizat dan dikunjungi
oleh para majus.
Sebagaimana umum bahwa orang bertanya
kepada orang tua yang membawa bayi akan
umur bayinya, demikian juga orang saat itu akan
bertanya, “berapa umur anakmu?” kepada Bunda
Maria. Maka tanggal kelahiran Yesus 25
Desember di tengah malam, akan sudah
diketahui sejak abad pertama. Para Rasul pasti
akan sudah menanyakan tentang hal ini dan baik
St. Matius dan Lukas mencatatnya bagi kita.
Singkatnya, adalah sesuatu yang masuk akal jika
para jemaat perdana telah mengetahui dan
merayakan kelahiran Yesus, dengan mengambil
sumber keterangan dari ibu-Nya.
Kesaksian berikutnya adalah dari para Bapa
Gereja, yang mengklaim tanggal 25 Desember
sebagai hari kelahiran Kristus sebelum
pertobatan Kaisar Konstantin dan kerajaan
Catatan yang paling awal tentang hal ini adalah
dari Paus Telesphorus (yang menjadi Paus dari
tahun 126-137), yang menentukan tradisi Misa
Tengah malam pada Malam Natal… Kita juga
membaca perkataan Teofilus (115-181) seorang
Uskup Kaisarea di Palestina: “Kita harus
merayakan kelahiran Tuhan kita pada hari di
mana tanggal 25 Desember harus terjadi.”[3 ]
Tak lama kemudian di abad kedua, St.
Hippolytus (170-240) menulis demikian:
“Kedatangan pertama Tuhan kita di dalam
daging terjadi ketika Ia dilahirkan di Betlehem, di
tanggal 25 Desember, pada hari Rabu, ketika
Kaisar Agustus memimpin di tahun ke-42, …. Ia
[Kristus] menderita di umur tiga puluh tiga,
tanggal 25 Maret, hari Jumat, di tahun ke-18
Kaisar Tiberius, ketika Rufus dan Roubellion
menjadi konsul.[ 4 ]
Dengan demikian tanggal 25 Maret menjadi
signifikan, karena menandai hari kematian
Kristus (25 Maret sesuai dengan bulan Ibrani
Nisan 14- tanggal penyaliban Yesus. Kristus,
sebagai manusia sempurna- dipercaya
mengalami konsepsi dan kematian pada hari
yang sama, yaitu tanggal 25 Maret…Maka
tanggal 25 Maret dianggap istimewa dalam
tradisi awal Kristiani. 25 Maret ditambah 9
bulan, membawa kita kepada tanggal 25
Desember, yaitu kelahiran Kristus di Betlehem.
St. Agustinus meneguhkan tradisi 25 Maret
sebagai konsepsi Mesianis dan 25 Desember
sebagai hari kelahiran-Nya: “Sebab Kristus
dipercaya telah dikandung di tanggal 25 Maret, di
hari yang sama saat Ia menderita; sehingga
rahim Sang Perawan yang di dalamnya Ia
dikandung, di mana tak seorang lainpun
dikandung, sesuai dengan kubur baru itu di mana
Ia dikubur, di mana tak seorangpun pernah
dikuburkan di sana, baik sebelumnya maupun
sesudahnya. Tetapi Ia telah lahir, menurut
tradisi, di tanggal 25 Desember.”[5 ]
Di sekitar tahun 400, St. Agustinus juga telah
mencatat bagaimana kaum skismatik Donatist
merayakan tanggal 25 Desember sebagai hari
kelahiran Kristus, tetapi mereka menolak
merayakan Epifani di tanggal 6 Januari, sebab
mereka menganggapnya sebagai perayaan baru
tanpa dasar dari Tradisi Apostolik. Skisma
Donatist berasal dari tahun 311, dan ini
mengindikasikan bahwa Gereja Latin telah
merayakan hari Natal pada tanggal 25 Desember
sebelum tahun 311. Apapun kasusnya, perayaan
liturgis kelahiran Kristus telah diperingati di
Roma pada tanggal 25 Desember jauh sebelum
Kristianitas dilegalkan dan jauh sebelum
pencatatan terawal dari perayaan pagan bagi
kelahiran Sang Matahari yang tak Terkalahkan.
Untuk alasan ini, adalah masuk akal dan benar
untuk menganggap bahwa Kristus benar telah
dilahirkan di tanggal 25 Desember, dan wafat
dan bangkit di bulan Maret, sekitar tahun 33.
Sedangkan tentang perhitungan tahun kelahiran
Yesus, menurut Paus Benediktus XVI dalam
bukunya Jesus of Nazareth: The Infancy
Narratives, memang adalah sekitar tahun 7-6
BC. Paus mengutip pandangan seorang
astronomer Wina, Ferrari d’ Occhieppo, yang
memperkirakan terjadinya konjungsi planet
Yupiter dan Saturnus yang terjadi di tahun 7-6
BC (yang menghasilkan cahaya bintang yang
terang di Betlehem), yang dipercaya sebagai
tahun sesungguhnya kelahiran Tuhan Yesus.

nich dasarnya : 
tgl 1 january tahun 1 adalah awal dari tahun masehi/mesiah . Berarti awal tahun setelah kristus/yesus .Dan setiap ANAK LAKI2 keturunan ISRAEL, HARUS DI SUNAT SETELAH 8 HARI SEMENJAK LAHIR,BARULAH DIA DISEBUT ANAK MANUSIA ( TANDA PERJANJIAN ABRAHAM DENGAN YHWH). nah, yesus lahir dari keturunan Abraham, maka diapun mengikuti hukum itu.
Setelah dia berumur 8 HARI, DIA DISUNAT dan diapun di sebut
sebagai anak manusia. Dan sejak itulah di mulai Awal tahun MASEHI . Nah Tgl 25 decmber adalah tgl 1 january minus 8 hari.
Hitung nich --
january 0001.


1. CHRIST, MUHAMMAD AND I by Mohammad Al Ghazoli 
  by Mark A. Gabriel
by Craig Winn 
4. LEFT BEHIND by Jerry B. Jenkins 
5. LEFT BEHIND by Tim F. LaHaye 
6. ISLAMIC INVASION by Robert A. Morey 
8. Antichrist: Islam's Awaited Messiah by Joel Richardson 
11. Islam: In Light of History By Rafat Amari
14. The Torn Veil by Gulshan Esther 
15. Why I Am Not a Muslim by Ibn Warraq 
16. Why I Am Not A Moslem by Dr. Peter S. Ruckman 
20. Islam And The Jews: The unfinished battle by Mark A. Gabriel 
22. Slavery, Terrorism and Islam by Peter Hammond 
24. Islam Exposed by Floyd McElveen 
27. The Destiny of Islam in the End Times by Faisal Malick 
28. 10 Amazing Muslims Touched by God by Faisal Malick 
32. The Hidden Life of The Prophet Muhammad by Dr. A. A. Ahmed 
34. Islam in the End Times by Ellis H. Skolfield
35. Muhammad is The Antichrist by Cole Steele 
36. Islam - The Dark Night Of Humanity by G. P. Geoghegan 
38. What the Koran Really Says by ibn warraq
    43. Iran: Desperate for God by The Voice of the Martyrs 





2 KORINTUS 11:14-15

14 Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang. 

15 Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka. 


 1. Jesus Christ: The Real Story by United Church of God 
6. Jesus Humanity and the Trinity by Kathryn Tanner
9. Jesus Christ, Disciplemaker by Bill Hull 
11. Life of Christ by Fulton J. Sheen 
16. The Cross of Christ by John Stott 
17. Jesus for the Non-Religious by John Shelby Spong

3. Trinity by Joseph F. Girzone
8. The Trinity (Guides to Theology) by Roger E. Olson
9. The Biblical Doctrine of the Trinity by B.B. Warfield 

Holy Spirit.
1. Good Morning, Holy Spirit by Benny Hinn 
3. Baptism in the Holy Spirit by Derek Prince 
4. Experiencing The Holy Spirit by MURRAY ANDREW 
7. 7 Things The Holy Spirit Will Do In You by Pastor Chris Oyakhilome PhD 

1. The Purpose Driven Life by Rick Warren 
3. The World On Fire by Rick Joyner 
5. The Final Quest by Rick Joyner 
7. Epic Battles of the Last Days by Rick Joyner 
8. The Prophetic Ministry by Rick Joyner 
9. The Harvest by Rick Joyner 
11. He Came To Set The Captives Free by Rebecca Brown 
12. Becoming A Vessel Of Honor by BROWN REBECCA 
13. Prepare For War by BROWN REBECCA 
14. The Gifts of the Body by Rebecca Brown 
15. Unbroken Curses by Rebecca Brown 
16. Church of Lies by Flora Jessop 
19. When God's Purpose Becomes Personal by Matthew Omaye Ajiake 
Buy new: $14.39 / Used from: $7.95
22. Blessing or Curse: You Can Choose by Derek Prince 
23. Secrets of a Prayer Warrior by Derek Prince 
24. Does Your Tongue Need Healing? by Derek Prince 
27. Entering The Presence Of God by Derek Prince 
33. Snakes in the Lobby by Scott MacLeod 
34. Why I Am A Christian by John Stott
36. Demons in the Church by Ellis H. Skolfield

41. The Bible Code by MichaelDrosnin 
42. Bible Code II: The Countdown by Michael Drosnin 
43. Bible Code III: Saving the World by Michael Drosnin 
45. Bible Code Bombshell by R. Edwin Sherman 



My blogs are now at the click of a variety of countries including Indonesia, the United States, Britain, Germany, France, Russia, Canada, India, Japan, Saudi Arabia, United Arab Emirates, Syria, Egypt, Australia, New Zealand, Malaysia, Brunei Darussalam, Hongkong, Singapore, China, Taiwan, Argentina, Colombia, Serbia, Morocco, Algeria, Brazil, Moldova, Macedonia, Netherlands, Spain, South Korea, Timor Leste, Norway, Belgium, Romania, Vietnam, Bulgaria, Albania, Azerbaijan, Mexico, Venezuela, Swedish, Irish, Turkey, Italy, Cile, Austria, and others.

Here's a list of my blogs:

so help me with prayer and purchase books written by me.

Here's a list of my books: 

English Version :

Biar gue bisa full time menyebarkan injil.

Filipi 2:5-11
5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 
7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 
10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 
11 dan segala lidah mengaku: ''Yesus Kristus adalah Tuhan,'' bagi kemuliaan Allah, Bapa! 


Richard Nata
Bank Central Asia, Tbk, Indonesia


ATAU SMS KE 62-8889910822 ( SMS ONLY, NO PHONE CALL ).

Jangan lupa, beritahukan buku apa yang anda beli dari kami.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...