Thursday, June 9, 2016

KESAKSIAN SEORANG BAPAK, Anaknya diduga mati terbakar di Mega M, Lippo Karawaci-Tangerang

Tajuk: Kesaksian Seorang Bapak ...

From: apakabar@access.digex.net
Date: Fri Sep 04 1998 - 15:05:00 EDT



----- Forwarded message from Alpine7637@aol.com -----
From Alpine7637@aol.com Fri Sep 4 17:22:45 1998
>From Alpine7637@aol.com Fri Sep 4 17:22:45 1998 
Received: from postal.clark.net (postal.clark.net [168.143.0.17])
        by pony-2.mail.digex.net (8.8.8/8.8.8) with ESMTP id RAA26087
        for <apakabar@access.digex.net>; Fri, 4 Sep 1998 17:22:44 -0400 (EDT)
From: Alpine7637@aol.com
Received: from loas.clark.net (loas.clark.net [168.143.0.13])
        by postal.clark.net (8.9.1/8.9.1) with ESMTP id RAA21050
        for <apakabar@access.digex.net>; Fri, 4 Sep 1998 17:22:41 -0400 (EDT)
Received: from imo29.mx.aol.com (imo29.mx.aol.com [198.81.17.73])
        by loas.clark.net (8.8.8/8.8.8) with ESMTP id RAA03261
        for <apakabar@clark.net>; Fri, 4 Sep 1998 17:23:51 -0400 (EDT)
Received: from Alpine7637@aol.com
        by imo29.mx.aol.com (IMOv16.1) id 3NWQa28984;
        Fri, 4 Sep 1998 16:47:35 -0400 (EDT)
Message-ID: <6c84259b.35f051e7@aol.com>
Date: Fri, 4 Sep 1998 16:47:35 EDT
Subject: Tajuk: Kesaksian Seorang Bapak ttg
X-Mailer: AOL 3.0 16-bit for Windows sub 38


<< Tajuk: Kesaksian Seorang Bapak ttg
                       DALANG KERUSUHAN MEI &
                               PERKOSAAN
                                                                            
                                                                            
 
        Muhammad Sulaiman
                                 intelindo@hotmail.com
                                                        Yesterday at 11:01 am
   TAJUK NO.14 1-3 SEP'98
   Hal 16-19
 
   KESAKSIAN SEORANG BAPAK, Anaknya diduga mati terbakar di Mega M, Lippo
   Karawaci-Tangerang
 
   Bapak ini sedang duduk lesu di sebuah taman di depan Mega Mall, Lippo
 Karawaci, ketika
   seorang berusia 28-29 mengahmpiri dan merangkulnya. Pagi itu 16 Mei 1998,
 lokasi bekas
   kebakaran itu cukup ramai, karena sebentar lagi akan dilakukan evakuasi
 korban kerusuhan 14
   Mei. Tak semua orang bisa mendekat ke lokasi, yang dijaga ketat pasukan
 berseragam loreng.
   Praktis, hanya anggota ABRI daan satu-dua kerabat (termasuk bapak ini)
 yang bisa mendekat.
 
   Si bapak ini menatap tajam lelaki ini yang menghampirinya. Perawakannya
 tinggi atletis, berkumis
   tipis seperti habis cukur, muka bulat, kulit kuning, dan berambut cepak.
 Ia memakai kaus
   berkerah, jins biru, dan sepatu lars. Dia tanya saya, "Kenapa Bapak di
 sini?" Saya bilang, "Anak
   saya mungkin ada di dalam, terjebak kerusuhan dan mungkin sudah terbakar
 dengan kayu. Saya
   dengar di televisi, anak saya disangka menjarah."
 
   Mendengar ucapan bapak ini lelaki itu mendadak menangis. Matanya, yang
 sudah sembab,
   langsung memerah. Lalu dia bilang, "Pak, saya minta tolong, demi Allah
 saya minta tolong. Saya
   mau ceritakan suatu rahasia, dan tolong sampaikan kepada wartawan atau
 siapa. Ini amanah
   saya kepada Bapak. Kalau tidak diungkap, di akherat kita sama-sama masuk
 neraka."
 
   Bapak ini kaget, kenapa begitu? Dia jawab," Sebab, perbuatan saya sangat
 jahat. Semua
   pembakaran, penjarahan dan perkosaan kemarin (14 Mei), kami melakukan."
 Belum lagi si
   bapak bereaksi, lelaki itu membuka dompetnya. Warnanya loreng, dengan
 simbol baret merah
   dan pisau. Ia juga menunjukan kartu identitas. "Tapi, karena mata saya
 buram, ndak bisa lihat
   tulisannya. Dia kemudian bilang, dirinya anggota Kopassus."
 
   Mereka lantas berbicara hingga dua jam lebih, sambil menunggu buldoser
 untuk membantu
   evakuasi. Belakangan diketahui tentara ini stres berat, karena anggota
 keluarganya juga ikut
   hilang akibat kerusuhan Mei tersebut. Dia mengaku dimusuhi keluarganya,
 dianngap telah
   membunuh saudara sendiri. Bahkan, istrinya tak mau lagi bicara dengannya.
 "Dia sampai bilang
   ,'Kalau bunuh diri itu ngak dosa, saya sudah lakukan' Saya percaya bahwa
 orang itu jujur.
   Makanya, saya ingat betul apa saja yang dia katakan," ujar bapak ini
 kepada Tajuk, Minggu
   (30/8).
 
   Berikut cerita si anggota Kopassus tadi, yang dituturkan ulang oleh bapak
 malang itu:
 
   Kerusuhan ini sebenarnya sudah lama direncanakan. Jadi, 2 bulan
 sebelumnya, pada 1 Maret
   1998, ada apel di kesatuan kami di Kopassus. Sehabis apel, perwira piket
 mengumumkan
   bahwa anggota dari regu titik-titik diharuskan ikut ke Kodam Jaya (Ketika
 ditanya kenapa bilang
   titik-titik, dijawab: Saya tidak bisa mengatakan regunya. Jangan-jangan
 Bapak nanti ditangkap
   tentara, lalu dipaksa bicara, sehinnga saya bisa ditelusuri. Kalau ini
 terjadi bisa habis keluarga
   saya. Dia mau bongkar rahasia ini karena, katanya, dia tidak kuat
 menaggung beban dosa).
 
   Kami diangkut dengan dua truk, dan langsung menuju aula Kodam. Di sana,
 sudah ada satu
   kompi dari Kostrad dan satu kompi lagi Kodam Jaya. Acaranya sendiri
 dimulai pukul 10.00,
   untuk mendengar briefing dari beberapa perwira tinngi. Di situ, ada Pak
 Prabowo (saat itu masih
   Danjen Kopassus- Red), Pangdam Sjafrie Sjamsoeddin, dan beberapa kepala
 direktorat. Sjafrie
   bicara duluan.
 
   Dia bilang: Saudara-saudara dikumpulkan di sini kaarena kita akan
 membentuk tiga kompi
   pasukan khususu yang tidak terlihat. Kami nanti disuruh pakai baju preman,
 pakai wig, tapii tetap
   bawa senjata. Pak Sjafrie juga mengatakan: Negara sedang dalam keadaan
 genting. Kita
   diperintahkan PAK HARTO untuk melakukan ini-ini, dan untuk itu kita bentuk
 3 kompi ini.
 
   Ada 2 Tugas dari kompi-kompi ini. Pertama, negara genting, karena
 mahasiswa akan
   menghancurkan Orde Baru, harus diculik. Kedua, kalau keadaan tidak bisa
 diatas lagi,
   mahasiswa akan dibunuh. Kata Sjafrie: Tugas Saudara-saudara bukan membunh,
 tapi menyusup
   dan mengacaukan.
 
   Lalu, ada juga merencanakan memeperkosa PEREMPUAN Tionghoa (Si Bapak
 bertanya,
   kenapa hrus ada perkosaan? Dia bilang, ada unsur politik di balik itu.
 Intinya, ini bagian dari
   rekayasa untuk menaikkan Prabowo sebagai Pangab. Dia menyebut-nyebut soal
 peringkatan
   Hari Kebangkitan Nasonal,20 Mei 1998).
 
   Pada 20 Mei, kami dengar bahwa mau ada demontrasi besar-besaran. Untuk
 menyambutnya,
   suda direncankan untuk menyediakan 20 tank. Setaip tank akan diisi satu
 regu tentara yang
   dikasih 3.000-5.000 biji. Jadi, nanti, ketika mahasiswa jalan menuju ke
 Monas, kompi ini akan
   menyusup memakai jaket mahasiswa. Lalu, mereka pura-pura berkelahi.
 Setelah terjadi
   keributan, regu ini akan membuka jaketnya, dibuang, lalu mundur dan
 menghilang.
 
   Begitu mereka mundur, tank-tank itulah yang akan membabat habis semua
 mahasiswa. Dengan
   begitu, mahasiswa bisa dianggap membikin onar dan makar terhadap negara.
 Kalau mahasiswa
   sampai berhasil, jatuh semua ini. Hancur. Makanya kami harus membela, agar
 konstelasi yang
   ada teatp utuh (Bapak ini mengaku tidak tahu, apa yg dimaksud dgn
 konstelasi di sini.)
 
   Jadi, kalau betul anak Bapak terbakar di Mega M, itu kerjaan regu yang
 berseragam dinas hitam
   dan pakai tutup kepala kayak ninja. Itu bukan regu saya. Tugas regu saya
 spesial memimpin
   orang-orang untuk menjarah dan membakar (Cerita tentang keberadaan pasukan
 ninja
   dibenarkan seorang penjarah dan seorang ibu yang kehilangan ankanya. Cuma,
 kata meraka
   kepada Tajuk, ninja itu bersenjata celurit. Bukan senjata api. Para
 penjarah juga bnayak bukan
   orang situ."Orangnya hitam keriritng, mirip orang Indonesia Timur.")
 
   Yang dilibatkan dalam operasi ini tidak seluruhnya tentara. Ada 200 orang
 binaan dari Timor
   Timur, 200 orang dari Irian Jaya, dan 200 orang lagi dari Sumatra. Mereka
 diangkut ke Jakarta
   pakai pesawat, kecuali yang dari Sumatra naik mobil. Kalau ditambah
 preman-preman
   se-Jabotabek yang dilibatkan, seluruhnya ada 10.000 orang. Mereka tidak
 diberi janji, tapi
   iming-iming. Kalu tugas berhasil, jarahan boleh diambil. Preman itu
 dikumpulkan di dodiklat
   (komando pendidikan dan latihan), seminggu sebelum kerusuhan.
 
   Pada 12 Mei, tiga kompi ini kembali dikumpukan. Mereka ditugasi untuk cari
 tahu dimana ada
   mahasiswa yang berdemontrasi. Tampaknya Pak Harto memberikan lampu hijau
 kepada
   Prabowo, supaya mulai membabat mahasisiwa. Tapi, karena susah cari-cari
 kesalahan, baru di
   Trisakti rencana dijalankan. Waktu itu, banyak yang pegang HT (handy
 talky), karena meraka
   koordinnasi ke Kodam. Kompi-kompi ini menunggu berita di menunggu berita
 Makodam.
 
   Tugas tiga kompi ini sudah dibagi-bagi. Ini pakai motor, ini pakai baju
 hitam dinas, dan itu untuk
   yang tidak terbentuk. Hari itu (12 Mei), kami semua sibuk memantau.
 Bagaimana, apa sudah ada
   kerusuhan? Belum, gimana, sedikit lagi. Nah, baru, setelah ada peluang
 untuk bikin rusuh, regu
   bermotor berangkat ke sana (Trisakti). Seluruh motor di taruh Kodim
 Jakarta Barat.
 
   Regu ini kemudian menyamar pakaian polisi. Senjatanya dilipat, dimasukkan
 ke dalam jaket, lalu
   mereka berbaur dengan polisi. Jadi, begitu polisi mulai menembak dengan
 peluru kosong,
   mereka ikut menembak. Habis menembak, mereka ambil motornya, lalu
 menghilang (Ketika
   saya tanya mengapa mahasisiwa ditemabak, dia bilang, supaya mahasisiwa
 nngamuk).
 
   Setelah berhasil di Trisakti, besoknya (13 Mei), 10.000 pasukan itu
 disiapkan untuk memancing
   mahasisiwa di Terminal Grogol. Sejak pagi, mereka kumpul-kumpul di
 terminal menunggu
   mahasiswa. Tapi, rencana ini bocor, karena semua mahasiswa ternayat pakai
 jaket dan tidak
   mau bergabung.
 
   Mereka terus menunggu sampai jam sebelas malam, tapi mahasiswa tidak juga
 bergabung.
   Akhirnya, komandan terpaksa membagi-bagi pasukan. Seribu orang ke Jakarta
 Utara, seribu ke
   Golodk, seribu ke Jakarta Timur, dan seribu lagi ke Jakrta Selatan.
 Masing-masing rombongan
   dipimpin satu regu yang tidak terbentuk ini. (sampai pada cerita ini,
 tentara itu menangis)
 
   Pada 14 Mei itu, sebelum menjarah dan membakar, dilakukan pemerkosaan
 lebih dulu.
   Pokoknya dimana ada cewek Tionghoa, dinaikkin. Yang memperkosa bukan
 tentara, tapi para
   preman yang didatangkan dari luar daerah. Sehingga, korban yang diperkosa
 tidak kenal, karena
   bukan orang situ. Secara bersamaan, toko-toko mulai dijarah, lalu dibakar,
 setelah barang ludes
   diambil (Tentara itu mengaku menyesali perbuatannya. Dia tahu, perbuatan
 itu laknat, tapi
   sebagai tentara dia tidak berani menolak perintah).
 
   Sore hari, setelah bikin rusuh, ketiga kompi langsung ke Kodam. Sedangkan,
 preman-preman
   ditarik ke baraknya. Di Makodam, setiap kompi dimintai laporan. Berapa
 orang yang diperkosa,
   berapa toko yang dijarah, dan lainnya. Dari situ, diketahui jumlah
 seluruhnya. Jadi, orang yang
   mati di Jakarta kurang lebih 5.000 orang, dan ratusan orang diperkosa.
 Sebagain korban
   perkosaan yang masih hidup dibuang ke api.
 
   Seluruh rencana memang dipersiapkan matang. Operasi ini bahkan sudah
 diberi nama Gerakan
   12 Mei Orde Baru, karena tugasnya melindungi Orde Baru, agar jangan
 hancur. Sejak dua bulan
   sebelum kerusuhan, orang-orang binaan ini sudah direkrut dan dilatih
 Kopassus yang ada di
   sana. Mereka baru dikirim ke Jakarta seminggu sebelum kerusuhan.
 
   Di Lippo Karawaci, tempat regu saya bertugas, aksi dimulai pukul 14.00.
 Kami teriak-teriak,
   menyuruh orang melempar batu dan menjarah. Lalu, Lippo kita bakar, tapi
 Mega M sengaja
   dibiarkan dan dijaga regu lain yang berpakain dinas. Ini disengaja, untuk
 menjebak. Pukul 18.00,
   preman-preman yang masuk regu saya ditarik ke Jakarta. Semuanya sepuluh
 truk. Malamnya,
   mereka langsung dipulangkan ke daerahnya. Untuk yang ke Timtim dan Irian,
 mereka berkereta
   ke Surabaya, baru dari sana dibawa pakai pesawat.
 
   Setelah preman-preman pulang ke Jakarta, ada empat truk lain yang
 menggantikan. Dua truk
   diantaranya lebih dulu merampok tabung-tabung gas elpiji di toko-toko.
 Jumlahnya sekitar 30
   biji. Kompi saya masih di situ, taapi sudah ngak ikut tugas. Tugas kami
 selesai sampai dengan
   memulangkan prema-preman itu.
 
   Srtibanya di lokasi, pasukan di empat truk langsung menodong kerumunan
 penonton. Mereka
   berteriak,"Hayo, tiarap demau..." Yang ngak mau tiarap ditembak kakinya.
 Masyarakat yang
   ngak tahu langsung tiarap, sedangkan yang lainnya lari tunggang-langgang.
 Yang tirap ada
   500-an, sementara sekitar 3.000 lain lari dan menonton dari kejauhan.
 
   Tak lama, orang-orang yang bertiarap ini disuruh berdiri. Lalu, dengan
 tangan dibelakang,
   mereka digiring ke Mega M, yang belum dibakar. Satpam diperintahkan
 membuka gembok.
   Rolling door-nya diangkat setengah, lalu 500-an orang disuruh masuk.
 Begitu semua masuk,
   tretet...te, mereka langsung diberondong tembakan ke arah kaki.
 
   (Kepada Tajuk, Robaini, satpam Mega M, menolak cerita ini. Katanya,
 seluruh satpam waktu
   itu tidak berseragam, sehingga sulit dibedakan massa. "Ngak ada juga
 perintah membuka rolling
   door, mana dia tau kita ini satpam," kata Robaini. namun, cerita seorang
 penjarah di Mega M,
   yang enggan disebut namanya, membenarkan versi cerita sang oknum Kopassus
 tadi. Misalnya,
   ada tembakan serta ada sejumlah korban yang mati terkena senjata tajam)
 
   Setelah tembakan berhenti, tabung-tabung elpiji diturunkan, ditaruh di
 dalam dan diledakkan.
   Begitu api mulai berkorbar, pintu ditutup dan digembok kembali. Lalu oleh
 pasukan berseragam
   hitam, selongsong peluru dikumpulkan dan disapu bersih. Sehabis itu,
 mereka naik truk dan
   menghilang.
 
   Secara keseluruhan, tugas ketiga kompi memang cuma sampai di situ. Setelah
 melapor ke
   Makodam, kompi-kompi dikembalikan ke kesatuan masing-masing, dan
 menganggap bahwa tak
   pernah terjadi apa-apa. Tapi semua yang bertugas- Kostrad, Kopassus,
 maupun Kodam- tetap
   diawasi. "Saya ke sini juga setelah menyelinap lewat dapur."
 
   Pembicaraan terhenti setelah buldoser datang. Tapi, bapak ini tak langsung
 menyampaikan
   amanat si tentara. Takut, Ia cuma kirim surat kaleng ke Amien Rais,
 memberi tahu agar tidak
   membbawa mahasiswa ke Monas pada 20 Mei. Bapak itu khawatir, rencana
 tentara menghabisi
   mahasiwa jadi dilaksanakan."surat itu saya kirim ke Muhammadiyah. Nggak
 tahu, nyampe atau
   tidak ke tangan Pak Amien."
    
                                                         
>> 
----- End of forwarded message from Alpine7637@aol.com -----

sumber: https://www.library.ohiou.edu/indopubs/1998/09/04/0016.html

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...