Friday, October 16, 2015

Kiblat yang Berubah


 sumber : youtube

Sebuah video memperlihatkan seorang penganut Syiah menyatakan bahwa Karbala harus menjadi kiblat bagi umat Muslim. Karbala adalah sebuah kota di negara Irak yang merupakan kota suci bagi penganut Syiah.
Para penganut Sunni, tanpa diragukan lagi akan memprotes isi rekaman tersebut. Biasanya akan diikuti dengan akan menunjuk Syiah sebagai aliran sesat. Perseteruan antara kedua aliran ini memang sudah menjadi rahasia umum.
Tanpa memihak kedua belah pihak, marilah kita ingat bahwa pernyataan pemuka Syiah tersebut bukanlah hal yang baru. Umat Musilm seharusnya membuka kitab suci mereka dan menyadari bahwa kejadian ini pernah terjadi pada masa hidup Nabi junjungan mereka.
Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus"(QS. 2: 142)  
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (QS. 2: 143)
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. 144)
Pada awalnya, kiblat umat Muslim menghadap Baitul Maqdis (Yerusalem). Hal itu tampaknya dilakukan Muhammad untuk menarik umat Yahudi supaya tertarik dengan ajarannya. Umat Yahudi sendiri meninggikan derajat Yerusalem karena percaya bahwa Tuhan mereka hadir di kota itu.
Akan tetapi, dalam waktu 16 atau 17 bulan saja, Allah memberi perintah untuk memindahkan arah kiblat. Hanya diperlukan satu hal sebagai alasan pemindahan kiblat ini: keinginan Muhammad (Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram... QS 2:143). Sedemikian kasihnya Allah hingga Ia bersedia melepaskan prinsip tata cara ibadah dan mengalah pada keinginan Muhammad.
Perubahan tersebut tentu saja pada awalnya menimbulkan kecanggungan. Hadis Bukhari menceritakan bahwa pengikut Muhammad harus mengubah arah kiblat mereka ketika mereka sedang dalam posisi membungkuk saat sembahyang. Bahkan dalam hadis, Anas menyatakan bahwa ia menjadi satu-satunya pengikut yang masih menghadap ke dua kiblat, Yerusalem dan Mekah.
Oleh karena itu, ketika ada orang yang menyatakan bahwa arah kiblat dirubah, hal itu bukanlah sesuatu yang baru dan mengherankan. Barangkali Allah juga menyatakan kepada orang tersebut bahwa kiblat perlu dirubah. Bukankah Allah Maha Kuasa sehingga dapat menggunakan mulut siapapun untuk menyatakan keinginannya. Bila tidak demikian, apakah Allah begitu terbatas sehingga Ia hanya dapat berfirman melalui Jibril yang kemudian menyampaikannya kepada Muhammad saja?

sumber : https://buktidansaksi.com/blogs/2273/2015/10/Kiblat-yang-Berubah


┏━━━┓┏━━━┓┏━━━┓
┃┏━━┛┃┏━━┛┃┏━━┛
┃┗━━┓┃┗━━┓┃┗━━┓
┃┏━┓┃┃┏━┓┃┃┏━┓┃
┃┗━┛┃┃┗━┛┃┃┗━┛┃
┗━━━┛┗━━━┛┗━━━┛

Menurut google earth jarak dari Yerusalem ke Mekah adalah 666 mil.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...