Friday, October 23, 2015

Suami-Suami Muslim Harus Membenci Isteri-Isteri Non-Muslim


Tuesday, December 31, 2013

Suami-Suami Muslim Harus Membenci Isteri-Isteri Non-Muslim

Saya akan menyampaikan hal ini sebagai fakta: Siapa pun yang memperkosa seorang wanita, apakah penting baginya untuk mencintai perempuan itu? Atau, ia hanya sekedar menidurinya? Ia tidur dengannya hanya demi tubuhnya saja, sementara  faktanya adalah ia tidak mencintai perempuan itu, sebab jika ia mencintainya maka ia tidak akan membuatnya terluka. Karena itu adalah sesuatu yang memungkinkan jika terjadi hubungan seks antara seorang pria Muslim dengan seorang perempuan Kristen atau Yahudi tanpa adanya ikatan cinta. Ini mungkin saja terjadi, tetapi sebagaimana yang kami katakan, pria Muslim diperintahkan untuk membencinya. (Dr. Burhami) 


Dr. Burhami: Isteri non-Muslim dapat diumpamakan dengan korban perkosaan

Oleh Raymond Ibrahim pada 18 September 2013 di From The Arab WorldIslam

Seringkali  diterjemahkan sebagai “Loyalitas dan Permusuhan”, itulah doktrin Islamwala’ wa bara’ yang tak banyak diketahui. Ajaran ini memerintahkan Muslim untuk tidak berteman atau menunjukkan loyalitas kepada non-Muslim, membatalkan sumpah yang pernah mereka ucapkan kepada non-Muslim serta membenci non-Muslim dengan segenap hati. 

Dalam sebuah sesi Tanya-Jawab di sebuah konperensi Islam, doktrin kebencian ini diekspresikan sepenuhnya (lihat video yang ada di bawah). Ulama dan pengkotbah popular, Dr. Yassir Burhami, wakil presiden partai Salafy Mesir, menjelaskan mengapa Loyalitas dan Permusuhan harus dipegang dalam setiap kesempatan – bahkan terhadap seorang isteri Muslim, jika ternyata sang isteri adalah non-Muslim dan merupakan anggota dari golongan “Ahli Kitab” (Kristen, Yahudi, yang diijinkan untuk dinikahi oleh pria-pria Muslim; sementara pria Kristen dan Yahudi dilarang keras untuk menikahi perempuan-perempuan Muslim).

Ketika seorang peserta bertanya pada Burhami, mengapa Islam mengijinkan seorang pria Muslim untuk menikahi seorang wanita non-Muslim tetapi memerintahkan si pria untuk membenci isterinya, Syeikh menjawab demikian:

Dimana masalahnya? Bukankah semua pria mencintai isteri-isteri mereka? Berapa banyak pasangan yang telah menikah hidup bersama meskipun mereka harus menghadapi perbedaan pendapat dan masalah-masalah? Jika itu masalahnya, maka ia (suami Muslim) bisa jadi akan menyukai rupa isterinya yang non-Muslim, atau menyukai cara bagaimana isterinya itu membesarkan anak-anak mereka, atau menyukai isterinya itu karena ia punya uang. Itulah alasan mengapa pria Muslim dianjurkan untuk tidak menikahi wanita dari golongan Ahli Kitab – karena perempuan seperti itu tidak memiliki agama yang sejati. Pria Muslim diperintahkan untuk mempengaruhi isterinya yang non Muslim agar ia membenci agamanya, sementara di saat yang sama tetap meneruskan hubungan pernikahan mereka atau berhubungan seks dengan isterinya itu. 

Ini adalah hal yang sangat mendasar … tentu saja ia harus mengatakan pada isterinya bahwa ia membenci agama isterinya itu. Ia harus memperlihatkan pada isterinya bahwa alasan ia membenci isterinya itu adalah karena agamanya, dan karena ia adalah seorang kafir. Tapi jika memungkinkan, perlakukan dia dengan baik – barangkali hal itu akan membuatnya berpaling kepada Islam. Ia harus mengajaknya masuk Islam dan mendoakannya kepada Allah. 

Dr. Burhami lebih jauh menggunakan contoh perkosaan sebagai sebuah analogi:
Saya akan menyampaikan hal ini sebagai fakta: Siapa pun yang memperkosa seorang wanita, apakah penting baginya untuk mencintai perempuan itu? Atau, ia hanya sekedar menidurinya? Ia tidur dengannya hanya demi tubuhnya saja, sementara  faktanya adalah ia tidak mencintai perempuan itu, sebab jika ia mencintainya maka ia tidak akan membuatnya terluka. Karena itu adalah sesuatu yang mungkin jika terjadi hubungan seks antara seorang pria Muslim dengan seorang perempuan Kristen atau Yahudi tanpa adanya ikatan cinta. Ini mungkin terjadi, tetapi sebagaimana yang kami katakan, pria Muslim diperintahkan untuk membencinya.  

Kemudian Burhami mengutip ayat-ayat Quran yang memerintahkan untuk membenci isteri kafir, dan ayat-ayat inilah yang menjadi dasar berpijak dari doktrin Loyalitas dan Permusuhan:
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka…” (Quran 58:22), dan “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Quran 5:51)

Apa yang akan anda lakukan dengan ayat-ayat seperti ini?
Ketika ditanya apakah seorang suami Muslim boleh setidaknya mengucapkan salam kepada isterinya – berdasarkan ajaran Nabi Islam, orang Muslim tidak diijinkan untuk memberi salam kepada non-Muslim. Di sini sikap Burhami tetap konsisten:
Ketika seorang suami Muslim tiba di rumah, maka ia tidak boleh menjadi orang yang pertama kali memberi salam kepada isterinya. Ia diperbolehkan memberi salam kepada anak-anaknya (karena mereka adalah Muslim), atau ia dapat mengucapkan sebuah salam yang bersifat umum jika ada orang Muslim lain yang hadir, sehingga salam itu sesungguhnya ditujukan kepada mereka (sementara sang isteri berpikir bahwa salam itu adalah untuknya). Ini adalah perintah-perintah dari mainstream Islam … isterinya yang non-Muslim harus terlebih dahulu memberinya salam, baru kemudian suaminya memberikan balasan.
Jika seperti ini ajaran Islam yang harus dilakukan Muslim terhadap isteri-isteri mereka yang non-Muslim, hanya karena mereka adalah kafir, lalu bagaimana mereka harus memperlakukan orang-orang asing non-Muslim – seperti mayoritas anda yang membaca artikel ini?
Saya anggap anda mengetahuinya, terimakasih untuk ajaran-ajaran tambahan Islam lainnya seperti taqiyya.
Catatan: Untuk mempelajari lebih jauh tentang wala’ wa bara’, bacalah tulisan pemimpin Al- Qaeda Ayman Zawahiri yang berjudul “Loyalitas dan Permusuhan” – hampir 60 halaman – yang bisa dilihat di The Al Qaeda Reader (pgs. 63-115). Dan informasi lebih jauh mengenai kebencian Islami, lihat “Muslim Prayers of Hate.”

Lihat videonya di SINI


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...