Sunday, May 29, 2016

12 MEI 2011: 13 TAHUN TRAGEDI TRISAKTI

12 MEI 2011: 13 TAHUN TRAGEDI TRISAKTI

Hari ini 12 Mei. 13 tahun sudah Tragedi  Trisakti 1998 berlangsung. Selain pengadilan dan hukuman untuk Tim Mawar dari Kopassus TNI AD dan dicopotnya jabatan Panglima Kostrad Letjen TNI Prabowo Subianto dan Danjen Kopassus Mayjen TNI Muchdi P.R., belum jelas siapa sebenarnya penembak 4 orang mahasiswa Universitas Trisakti. (untuk berita mengenai kejadian itu, rekaman berita harian Kompas saat itu ada di sini).
Fakta bahwa para penembak berseragam polisi ternyata tidak membuat ada anggota Polri yang dihukum. Cerita-cerita lantas bertebaran, bahwa orang-orang itu bukan anggota Polri melainkan hanya berseragam polisi saja. Sebagian besar mahasiswa saat itu meyakini Prabowo Subianto adalah orang yang harus bertanggung-jawab atas tragedi ini. Ini terutama terkait dengan tindakan “penghilangan paksa” atau penculikan sejumlah aktivis yang terbukti dilakukan oleh tim khusus dari Kopassus yang diberi nama “Tim Mawar”. Orang kepercayaan Prabowo yaitu Fadli Zon sudah menulis buku Politik Huru-Hara Mei 1998 (2008) untuk membantah hal ini. Dalam berbagai wawancara media, Prabowo juga sudah mencoba ‘meluruskan’ perannya.
Akan tetapi, berbagai versi masih berkembang. Termasuk dari mantan atasan Prabowo yaitu Panglima ABRI sekaligus Menteri Pertahanan dan Keamanan Kabinet Pembangunan VII yaitu Jenderal TNI Wiranto. Bahkan Wakil Presiden terakhir era Orde Baru yang kemudian menjadi Presiden ketiga Indonesia -Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie- juga punya versi sendiri soal keterlibatan Prabowo dalam Tragedi Trisakti ini. Masing-masing mengeluarkan “buku putih” versinya sendiri. “Buku putih” adalah istilah untuk buku yang bersifat klarifikasi atau pembelaan diri.
Hingga kini, pemerintah tak kunjung menuntaskan penyelidikan atas peristiwa ini. Menurut para ahli forensik, penembakan dilakukan terarah dan bukan tembakan acak. Artinya, korban dibidik lebih dulu. Jadi, penembaknya pasti ngeh bahwa ia melakukan penembakan. Tapi, kenapa hingga sekarang tak terungkap? Lebih jauh lagi, bangsa ini berhutang terutama pada generasi penerus, tentang apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Siapa aktor intelektual tragedi penembakan empat mahasiswa yang gugur sebagai martir, dan terutama siapa yang menggalang massa untuk melaksanakan kerusuhan selama dua hari keesokannya di ibukota. Temuan TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) Kerusuhan 13-14 Mei 1998 memang menemukan bahwa ada sekelompok provokator yang selalu memulai aksi sebelum kemudian massa di sekitar TKP (Tempat Kejadian Perkara) ikut merusak, menjarah dan membakar.
13 tahun sudah. Dan bagian dari sejarah bangsa ini masih saja gelap. Bahkan mulai terlupakan…
Duh… bangsaku…
Foto: Kompas/js
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...