Sunday, May 29, 2016

Jakarta Membara dan Soeharto Siap Mundur

Jakarta Membara dan Soeharto Siap Mundur

Mei 1998. Jakarta dilanda kerusuhan massa, masyarakat berkabung (atas kematian empat mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, akibat luka tembak), rupiah melunglai, Indeks Harga Saham Gabungan anjlok, dan Presiden Soeharto siap mundur. Empat berita yang dimuat di harian Kompas, Kamis, 14 Mei 1998 ini, memiliki korelasi yang erat. Penembakan empat mahasiswa Trisakti, 12 Mei, memicu aksi kerusuhan massa yang lebih luas, yang akhirnya menyebabkan rupiah melunglai dan IHSG anjlok. Kondisi dalam negeri yang memburuk itu memaksa Presiden Soeharto mempersingkat kunjungannya di Mesir dan menyampaikan pernyataan bahwa dirinya siap mundur setelah berkuasa selama 32 tahun.
"Kalau memang rakyat tidak lagi menghendaki saya sebagai Presiden, saya siap mundur. Saya tidak akan mempertahankan kedudukan dengan kekuatan senjata. Saya akan mengundurkan diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa dan dengan keluarga, anak-anak dan cucu-cucu. Tetapi, semua itu harus dilakukan secara konstitusional. Kalau ada yang ingin melakukannya secara inkonstitusional, itu berarti mengkhianati Pancasila dan UUD 1945," kata Presiden Soeharto dalam acara temu muka dengan masyarakat Indonesia di Mesir, sehari sebelumnya. Hal itu terungkap dalam berita berjudul "Kalau Rakyat Tak Lagi Menghendakinya, Presiden Siap Mundur" yang ditulis wartawanKompas, J Osdar dan Musthafa Abd Rahman, dari Kairo, Mesir.
Soeharto membantah informasi yang menyebutkan dia dan keluarganya menguasai hasil kekayaan Indonesia, juga informasi yang menyebut dia orang terkaya keempat di dunia setelah Ratu Inggris Elizabeth II, Raja Arab Saudi Fahd, dan Sultan Brunei Hassanal Bolkiah. Soeharto menyebut informasi-informasi itu fitnah.
Presiden Soeharto waktu itu berada di Mesir menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G-15 dan mempersingkat kunjungannya. Dia batal melakukan kunjungan kepada Presiden Mesir Hosni Mubarak di Istana Koubbeh. Namun, Mubarak mengunjungi Soeharto di Hotel Sheraton Heliopolis.
Pernyataan Soeharto ditanggapi Ketua MPR/DPR Harmoko, seperti dimuatKompas, 15 Mei 1998, "Pimpinan MPR Adakan Rapim Segera". DPR, kata Harmoko, segera membahas pernyataan Presiden Soeharto yang disampaikan di Mesir. DPR akan membahasnya dalam Rapat Pimpinan MPR. Pada hari yang sama, pimpinan DPR menerima para praktisi hukum yang dipimpin Adnan Buyung Nasution yang meminta MPR segera menggelar sidang istimewa. "Kalau dalam keadaan normal, kita memang harus memakai mekanisme sesuai Tata Tertib MPR. Tapi, kalau sudah begini, siapa yang bisa menjamin pembakaran-pembakaran akan berhenti. Karena itu harus secepatnya," ucap Adnan Buyung Nasution.
Dalam berita di hari yang sama berjudul "Para Tokoh Bentuk Majelis Amanat Rakyat, Siap Pimpin Bangsa secara Kolektif" disebutkan, sedikitnya 50 tokoh nasional di Jakarta, Kamis, 14 Mei 1998, membentuk kelompok pro demokrasi bernama Majelis Amanat Rakyat (MAR). Itu merupakan wadah kerja sama berbagai organisasi dan perorangan yang memiliki komitmen terhadap reformasi untuk demokrasi. MAR dibentuk setelah mereka melihat perkembangan di Indonesia yang makin memprihatinkan menyusul kemarahan massa terhadap pemerintah.
Ada tiga tuntutan MAR. Pertama, menyerukan kepada Presiden Soeharto untuk mengundurkan diri dengan kebesaran jiwa dan kehormatan demi kepentingan bangsa agar seluruh proses reformasi untuk demokrasi dapat berjalan dengan lancar dan damai. Kedua, menyerukan kepada aparat keamanan untuk menghindarkan diri dari segala bentuk penggunaan kekerasan kepada rakyat sehingga keadaan yang lebih buruk dapat dicegah. Ketiga, mengimbau mahasiswa, generasi muda, dan rakyat pada umumnya untuk sungguh-sungguh dan secepatnya menciptakan perubahan situasi yang memungkinkan pemulihan segera kehidupan masyarakat secara wajar.
Namun, dalam berita Kompas, 16 Mei 1998, Presiden Soeharto menegaskan tidak pernah menyatakan siap mundur. Presiden menyatakan, tidak apa-apa jika masyarakat sudah tidak lagi memberi kepercayaan karena dirinya akanmadeg (menjadi) pandito, yakni mendekatkan diri kepada Tuhan, membimbing anak-anak supaya menjadi baik, serta bisa memberi nasihat kepada masyarakat dan tut wuri handayani (membimbing dari belakang). Karena itu, Presiden tak akan mempertahankan kepercayaan rakyat itu dengan kekuatan senjata.
Kompas, 17 Mei 1998, memuat berita "Pimpinan Agama Minta Pak Harto Memilih Langkah Terbaik". Pimpinan agama mengeluarkan keprihatinan moral serta menilai negara dalam keadaan sangat kritis. Untuk itu, demi menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia dari kekacauan dan perpecahan, pimpinan agama meminta Presiden Soeharto mempertimbangkan langkah terbaik bagi bangsa.
Pada hari yang sama, dalam dialog dengan Universitas Indonesia, Soeharto mengatakan, "Jika dikehendaki, setiap saat Presiden siap untuk lengser keprabon (turun takhta) sejauh dilakukan secara konstitusional dan dengan cara damai. Dan, aspirasi masyarakat tentang suksesi itu kini telah bergulir di DPR. Karena itu, masalahnya tinggal bagaimana cara memberdayakan DPR semaksimal mungkin."
Menanggapi perkembangan penembakan mahasiswa Trisakti, Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI (Menhankam/Pangab) Jenderal Wiranto, seperti dikutip dalam berita Kompas, Sabtu, 16 Mei 1998, mengatakan, penelitian sementara tim yang dipimpin Kolonel CPM Hendardji (Komandan Polisi Militer Kodam Jaya) terhadap kasus penembakan mahasiswa Universitas Trisakti telah menemukan berbagai fakta. Salah satu fakta awal yang ditemukan adalah penembakan itu dilakukan dengan peluru tajam.
Jakarta membara
Kondisi Jakarta merah membara ketika Soeharto berada di Kairo. Dalam berita berjudul "Jakarta Dilanda Kerusuhan Massa" disebutkan, kerusuhan yang diwarnai aksi perusakan dan pembakaran bangunan dan kendaraan bermotor, Rabu, 13 Mei 1998, berawal dari kawasan di sekitar Kampus Universitas Trisakti, yaitu di Jalan Daan Mogot, Jalan Kyai Tapa, dan Jalan S Parman. Sehari sebelumnya, empat mahasiswa Trisakti tewas ditembak aparat. Aksi perusakan dan pembakaran meluas menjelang sore hari ke kawasan Bendungan Hilir, Kedoya, Jembatan Besi, Bandengan Selatan, Tubagus Angke, Semanan, dan Kosambi.
Massa mulai menyemut di kawasan sekitar Kampus Trisakti pada pukul 11.30. Saat itu, ribuan mahasiswa Trisakti sedang menggelar aksi berkabung atas gugurnya empat rekan mereka. Mahasiswa dilarang keluar kampus atau mendekati pagar kampus untuk menghindari insiden yang tak diinginkan.
Setengah jam kemudian, pada pukul 12.00, sebuah truk sampah di perempatan jalan layang dibakar massa. Aparat yang memblokir jalan di depan gedung Mal Ciputra dilempari massa dengan batu, botol, dan benda lain. Rambu-rambu lalu lintas dan pagar pembatas jalan dirusak dan dicabuti. Menghadapi massa yang mulai beringas, aparat melepas rentetan tembakan peringatan dan gas air mata. Massa tunggang langgang.
Di Jalan Daan Mogot, massa membakar dan merusak gedung dan mobil. Di halaman parkir mobil di belakang gedung Mal Ciputra yang biasa digunakan sebagai tempat parkir mahasiswa Universitas Trisakti dan Universitas Tarumanagara, sedikitnya 15 mobil hangus, 1 mobil terbakar, dan 9 mobil lain hancur. Sebelumnya, isi mobil dijarah massa. Buku-buku kuliah, diktat, dan tanda identitas mahasiswa berserakan di antara bangkai mobil.
Suasana chaos ini mencekam. Pukul 15.30, tiga helikopter terbang rendah dan berputar-putar meminta massa di kawasan Daan Mogot tidak berkerumun dan pulang ke rumah. Massa sempat menyerang pos polisi Grogol dengan lemparan batu.
Berita utama Harian Kompas 16 Mei 1998 berjudul
DOK KOMPAS
Berita utama Harian Kompas Minggu 17 Mei 1998 berjudul
DOK KOMPAS
Selepas pukul 18.00, keberingasan massa mulai muncul di sejumlah kawasan, terutama di Jakarta Barat. Di Jalan Bandengan Selatan, Tubagus Angke, dan Jembatan Dua, massa mulai menjarah rumah-rumah warga. Beberapa toko bahkan dibakar. Di Bojong, sebuah pasar swalayan mini dibakar massa. Di Jalan Lingkar Luar Barat, massa menghadang dan menjarah setiap kendaraan yang melintas. Massa juga menghancurkan Mal Puri Indah dan Green Garden. Pembakaran gedung dan mobil serta penjarahan toko masih berlangsung hingga larut malam, terutama di sekitar kawasan Angke, Jakarta Utara
Kerusuhan massa juga terjadi di kawasan bisnis Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya di depan gedung Wisma GKBI, gedung BRI I dan II, serta pasar dan pusat pertokoan Bendungan Hilir (Benhil). Kerusuhan mengakibatkan sedikitnya dua ruko di pertokoan Benhil rusak dan dua mobil terbakar. Kerusuhan bermula ketika ratusan mahasiswa Unika Atma Jaya menggelar aksi keprihatinan dan dukacita bagi para mahasiswa yang menjadi korban dalam insiden di Universitas Trisakti, sekitar pukul 13.00
Penjarahan
Aksi kerusuhan di Jakarta dan sekitarnya diwarnai pula dengan penjarahan. Berita utama harian Kompas, 15 Mei 1998, berjudul "Perusuh Menjarah" menyebutkan, gelombang kerusuhan di Jakarta, Kamis (14/5/1998), memasuki hari kedua. Kerusuhan itu diwarnai dengan perusakan, pembakaran, penjarahan, dan perampokan di sentra-sentra perdagangan di seluruh wilayah Jakarta. Langit Jakarta diselimuti kabut hitam akibat pembakaran ratusan gedung, pasar, toko, mobil, dan sepeda motor. Situasi berangsur terkendali menjelang tengah malam.
Kerusuhan di kompleks perumahan Kelapa Gading mulai pecah sekitar pukul 23.00. Massa kemudian menyerbu masuk ke rumah-rumah mewah di Jakarta Utara itu. Di ruas Tol Cawang, massa membakar sebuah mobil yang tengah melintas.
Amuk massa terjadi di depan Kampus Universitas Indonesia, Salemba, sekitar pukul 12.00. Mereka mencabuti pagar pembatas jalan, sementara satuan Pasukan Antihuru-hara (PHH) yang berjaga di depan kampus hanya mengawasi. Mereka kemudian bergerak ke arah RS St Carolus, tempat satuan PHH membarikade jalan. Pasukan PHH yang dilempari batu mundur teratur ke arah Jalan Matraman Raya.
Sekitar pukul 13.25, sepasukan Marinir TNI AL datang menenangkan massa. Bersama-sama mereka mulai membersihkan jalan. Kemudian massa ditahan oleh Marinir di perempatan Jalan Salemba Raya-Matraman Raya. Sisi Jalan Matraman Raya dibarikade satuan PHH Batalyon Infanteri 202 dan Jalan Matraman Proklamasi oleh satuan Brimob Polda Metro Jaya.
Pusat-pusat pertokoan di kawasan Pasar Baru habis dirusak dan dibakar massa. Harco yang terletak di Jalan Samanhudi ludes dilalap api, Bioskop Krekot dirusak, sementara berbagai gedung bank dan pertokoan lain rusak parah. Massa terus bergerombol dan membakar apa saja, termasuk kendaraan bermotor di Jalan Gunung Sahari, kawasan Sawah Besar, Jalan Letjen Suprapto, kawasan Cempaka Putih, Pasar Senen, Jalan A Yani, kawasan Mangga Dua, dan Jalan Palmerah. Di kawasan Pasar Baru, Senen, dan Cempaka Putih, massa bergerombol di jalan-jalan dan menjarah barang-barang dari pertokoan.
Menhankam/Pangab mengimbau semua kelompok masyarakat yang memanfaatkan situasi untuk menjarah, merampok, membakar, atau merusak Ibu Kota menghentikan kegiatan tersebut. ABRI tidak pernah ragu untuk menindak tegas pelanggar hukum seperti itu.
Berita utama Kompas, 16 Mei 1998, berjudul "Ratusan Penjarah Tewas Terpanggang" menyebutkan, ratusan penjarah tewas terpanggang dalam peristiwa kerusuhan yang melanda wilayah DKI Jakarta sepanjang Kamis, 14 Mei. Menurut Kadispen Polri Brigjen (Pol) Da'i Bachtiar, jumlah korban tewas di wilayah DKI sekitar 200 orang. Jumlah itu belum termasuk 20 korban tewas akibat terjatuh saat berusaha meloloskan diri dari kepungan asap dan api. Di Kota Tangerang, jumlah penjarah yang tewas terpanggang sekitar 100 orang. Sebagian besar jasad korban dalam keadaan hangus.
Kompas, 17 Mei 1998, menurunkan berita "Situasi Jakarta Sudah Normal". Situasi Ibu Kota sejak Sabtu, 16 Mei, dapat dikendalikan dan aman. Namun, Wiranto meminta seluruh masyarakat terus meningkatkan kewaspadaan dan mengefektifkan pengamanan lingkungan bersama aparat. Meski situasi sudah aman dan sepenuhnya dapat dikuasai, seluruh masyarakat diminta untuk segera menginformasikan kepada aparat keamanan terdekat jika mendengar, mengetahui, dan merasakan ada gerakan orang atau kelompok yang mencurigakan di sekitarnya. Dalam kesempatan itu, diumumkan korban yang tewas terpanggang sebanyak 498 orang.
Menhankam/Pangab mengimbau warga negara asing yang tinggal di Jakarta untuk tetap tenang. ABRI akan menjamin keamanannya.
Harian Kompas, 18 Mei 1998, menurunkan berita "Kerusuhan di Jakarta: Kerugian Fisik Rp 2,5 Triliun". Disebutkan, kerusuhan yang terjadi di Jakarta, 13-14 Mei 1998 , itu menelan kerugian fisik sekitar Rp 2,5 triliun. Peristiwa itu telah merugikan dan menjadi beban yang sangat berat dalam sistem perekonomian nasional.
Berita-berita yang dimuat harian Kompas, 13-18 Mei 1998, tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan erat, berawal dari penembakan empat mahasiswa Universitas Trisakti, lalu berkembang menjadi aksi kerusuhan massa dan penjarahan. Hampir 500 perusuh dan penjarah tewas terpanggang dalam insiden ini. Sementara itu, desakan aktivis berbagai organisasi dan pimpinan lembaga keagamaan agar Soeharto mengambil langkah terbaik (baca: mundur sebagai Presiden) terdengar makin keras. Peristiwa Mei 1998 menjadi tonggak penting dalam sejarah negeri ini.
(ROBERT ADHI KSP, DIOLAH DARI BERITA-BERITA HARIAN KOMPAS, 14-18 MEI 1998)
Seorang mahasiswa jatuh tergeletak terkena pukulan pasukan anti huru hara yang berusaha membubarkan aksi unjuk rasa menuntut Presiden Soeharto mundur, di depan kampus Trisakti, Grogol pada tanggal 12 Mei 1998. Pada aksi tersebut beberapa mahasiswa Trisakti tewas terkena tembakan.
KOMPAS/JULIAN SIHOMBING
Seorang mahasiswa tergeletak di tepi jalan saat terjadi kerusuhan menyusul demontrasi mahasiswa di depan kampus Universitas Trisakti Jakarta, 12 Mei 1998. Penembakan empat mahasiswa Trisakti inilah yang memicu kerusuhan massa dan aksi penjarahan, yang pada gilirannya memaksa Presiden Soeharto mundur.
KOMPAS/JULIAN SIHOMBING

Peringatan sembilan tahun tragedi Trisakti 12 Mei 1998 diikuti ratusan mahasiswa Universitas Trisakti. Mereka berunjuk rasa menuju Gedung MPR/DPR, Jakarta, Jumat (11/5/2007), karena kecewa terhadap kinerja DPR yang tidak pernah melakukan tekanan politis untuk menyingkap siapa yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut.
KOMPAS/AGUS SUSANTOPeringatan sembilan tahun tragedi Trisakti 12 Mei 1998 diikuti ratusan mahasiswa Universitas Trisakti. Mereka berunjuk rasa menuju Gedung MPR/DPR, Jakarta, Jumat (11/5/2007), karena kecewa terhadap kinerja DPR yang tidak pernah melakukan tekanan politis untuk menyingkap siapa yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut.
sumber: http://print.kompas.com/baca/2015/05/18/Jakarta-Membara-dan-Soeharto-Siap-Mundur?utm_source=bacajuga
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...