Sunday, May 29, 2016

TRAGEDI KERUSUHAN MASSAL 13-14 MEI 1998: SEBUAH KESAKSIAN SEJARAH (1) - 1 of 2

TRAGEDI KERUSUHAN MASSAL 13-14 MEI 1998: SEBUAH KESAKSIAN SEJARAH (1)

13 Mei 1998. Di manakah Anda berada? Saya berada di Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Indonesia di kampus UI Depok, markas dari harianbergerak! yang saya pimpin. Harian bergerak! ini adalah legenda pers mahasiswa era reformasi, karena merupakan satu-satunya media pergerakan yang terbit harian. (Kami bahkan sempat diliput satu halaman penuh oleh harian Kompas, juga media dalam negeri lain serta masuk liputan Time, Newsweek, Asiaweek, BBC dan CNN. Sejumlah buku dan satu tesis yang juga telah dibukukan juga membahas mengenai peran media kami tersebut).
Sore hari sebelumnya, tanggal 12 Mei 1998, empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas ditembus peluru aparat. Saya sendiri bersama sejumlah rekan sudah langsung meluncur ke R.S. Sumber Waras malam itu juga dan sempat pula berbincang pendek dengan Ketua SM Usakti Julianto Hendro Cahyono yang masih shock dan berbincang panjang dengan mas Kikiek (Dr. Hermawan Soelistyo). Bahkan alat perekam kami dipinjamnya dan hingga kini belum dikembalikan (hehe, sori diungkit dikit, Mas). Saya juga ada tepat di samping mobil Polisi Militer saat mahasiswa mengamuk dan memaki-maki anggota PM yang hadir bersama Danpomdam Jaya Kolonel TNI Hendarji.
Di tanggal 13 Mei 1998 ini, tadinya kami kira cuma akan terjadi sebuah kesedihan emosional saja, karena pemakaman empat korban penembakan itu akan dilaksanakan. Sejumlah tokoh datang ke kampus di jalan Kyai Tapa-Grogol tersebut. Upacara pemakaman ramai oleh massa. Karena saya harus stand-by di kantor redaksi mempersiapkan penerbitan, maka saya memilih tak hadir. Sejumlah reporter dan fotografer yang dedikasinya bak profesional telah ditugaskan meliput peristiwa itu. Salah satu yang saya ingat adalah Sarie Febriane -kini ia wartawati harian Kompas-yang waktu itu merupakan fotografer kami.
Sejak pagi, saya telah mengutus dua reporter bergerak! untuk bergerak ke Universitas Trisakti. Kalau saya tidak salah ingat, mereka adalah Hanggonoto Adikesuma yang akrab dipanggil Unay dan Arief Anggoro. Dari kedua orang inilah kemudian saya mendapatkan telepon (saat itu telepon genggam masih langka dan cukup mahal, namun alhamdulillah saya punya satu unit dengan membobol tabungan saya) bahwa keadaan mulai panas. Saat menjadi narasumber untuk film edukasi sejarah proyek dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang disutradari Ekky Imanjaya, saya menerangkan bahwa massa yang terkonsentrasi di depan Universitas Trisakti memulai aksinya dengan membakar sebuah truk di bawah jembatan layang Grogol yang memisahkan kampus itu dengan Mall Ciputra. Laporan itulah yang saya dapat dari dua orang reporter di lapangan tersebut. Anehnya, segera setelah itu, kerusuhan menjalar di segala pelosok Jakarta.
Temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kerusuhan Massal 13-14 Mei 1998 kemudian memang menuturkan setiap aksi kerusuhan selalu dimulai oleh sekelompok provokator. Mereka berbadan tegap, berambut cepak dan menutupinya dengan topi atau ikat kepala. Warga lokal juga bersaksi bahwa mereka bukan orang sekitar, melainkan pendatang atau orang asing. Kelompok ini didrop di lokasi -yang tampaknya sudah ditandai dan dimasukkan daftar sasaran- dengan truk. Barulah setelah itu warga sekitar ikut menjarah, merusak dan membakar. Dan setelah massa terpancing, kelompok ini justru pergi  dari lokasi, malah seringkali dengan membakar tempatnya lebih dulu. Sehingga sebagian massa yang masih asyik menjarah justru terjebak api dan tewas terpanggang hidup-hidup di dalam bangunan yang terbakar.
Saat menerima informasi terjadinya kerusuhan, kontan kami kaget. Dengan segeraheadline berita diubah menjadi bertopik tersebut. Namun, haluan kami adalah reformasi damai. Karena itu, editorial redaksi berupa himbauan agar mahasiswa tenang dan tidak terpancing ikut dalam aksi kerusuhan. Kalau saya tidak salah ingat, di hari yang sama selain di Universitas Trisakti, di kampus UI Salemba juga diadakan aksi solidaritas. Dengan segera mahasiswa menutup pintu gerbang kampus saat sekelompok massa mendekati dan mengajak mahasiswa keluar kampus untuk ikut dalam kerusuhan massal. Untunglah, mahasiswa peserta aksi tidak terpancing. Namun akibatnya, banyak mahasiswa terjebak tak bisa pulang. Selain karena kebijakan untuk ‘tidak keluar kampus’, juga kondisi di jalanan tidak aman karena kerusuhan merebak di mana-mana.
Saya dan tim juga sempat mengamankan seorang reporter kami, seorang mahasiswa FEUI yang berwajah mirip WNI keturunan China bernama Renata (posisi terakhir yang saya tahu ia mengajar sekaligus studi lanjutan di London). Ia kami amankan di sekertariat redaksi dan terpaksa menginap di kampus malam itu.
Repotnya, di tengah suasana tegang, kami harus memastikan harian bergerak! tetap terbit. Sementara, tempat photocopy Buring di jalan Margonda Depok yang biasa kami pergunakan malah tutup. Untunglah Mas Masruni sebagai General Manager masih ada di dalam kantor bersama stafnya, menjaga dari penjarah. Sehingga lewat jalan belakang, kami tetap bisa memperbanyak penerbitan kami. Di saat itu, keberanian Mas Masruni memperbanyak buletin kami sangat berani. Karena jelas tindakannya itu berarti ikut membantu menentang rezim berkuasa yang sangat berbahaya. Untunglah kami semua commited menjaga namanya sehingga sampai Soeharto lengser keprabon rezim tak mengetahui dimana kami memperbanyak “selebaran gelap tapi resmi” (itu istilah yang kalau tak salah disematkan oleh Kompas) kami itu. Akhirnya, di tengah suasana rusuh Jakarta, harian bergerak! tetap bisa terbit walau diedarkan secara terbatas.
(Kredit foto saya tak bisa temukan dari searching di internet, kemungkinan dariKompas).

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...