Sunday, May 29, 2016

Cerita di Balik Berita Utama "Kompas" Presiden Soeharto Siap Mundur (1 of 4)

Cerita di Balik Berita Utama "Kompas" Presiden Soeharto Siap Mundur



KompasJudul utama Harian Kompas terbitan Kamis 14 Mei 1998.
JAKARTA, KOMPAS.com - "Presiden Siap Mundur". Begitulah judul utama Harian Kompas terbitan Kamis, 14 Mei 1998. Pemberitaan tentang Presiden Soeharto itu membuat gempar di Tanah Air dan luar negeri.
Judul tersebut dimuat Kompas berdasarkan laporan wartawanKompas J Osdar, yang meliput kunjungan Soeharto ke Mesir.
Soeharto bertolak ke Kairo, Mesir pada 9 Mei 1998, ketika kondisi Tanah Air memanas. Saat itu, Soeharto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G15 di Kairo. Di Indonesia, gerbong pemerintahan dijaga Wakil Presiden B.J Habibie.
Osdar menceritakan, di Mesir Soeharto bertemu dengan masyarakat Indonesia yang bekerja atau belajar di Kairo pada Rabu (13/5/1998). Di situlah pernyataan penting Soeharto diucapkan.
"Waktu itu saya setengah-setengah tertidur ya. Beliau bilang, kalau memang rakyat tidak menghendaki, saya pun tidak bertahan dengan senjata. Saya akan hidup mendekati Tuhan. Kira-kira begitu. Ah, saya agak kaget," kenang Osdar dalam acara Cerita Kompas yang ditayangkan Kompas TV.
KOMPAS.com/SABRINA ASRILWartawan "Kompas" J Osdar berbicara dalam peluncuran buku "Sisi Lain Istana 2" di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (9/12/2014).
James Luhulima, redaktur politik Kompas ketika itu menerima telepon dari Osdar. Disampaikan Osdar, Soeharto menyampaikan mau mundur.
"Saya bilang, wah, itu berita besar. Kirim deh. Waktu itu saya bilang kirim tiga alinea saja karena sudah malam. Jadi kalau dia bikin tiga alinea tidak terlalu lama waktunya, tapi esensinya ada. Tapi dia bilang di sini repot. Akhirnya saya suruh dia dikte, saya catat," kata James.
August Parengkuan, Wakil Pemimpin Redaksi Kompas ketika itu mengaku percaya dengan laporan wartawannya. Ketika Osdar melaporkan hal tersebut, August memutuskan untuk dimuat di halaman utama.
"Saya pengambil keputusan pada malam itu," kata August.
Ansel da Lopez, wartawan non aktif Kompas yang menjabat anggota DPR ketika itu menceritakan, para anggota Komisi I DPR sempat bertanya kepadanya perihal headline Kompas tersebut.
Ansel kemudian menghubungi Osdar. Kepada Ansel, Osdar membenarkan Soeharto mengucapkan seperti dalam berita.
"Saya lalu menyampaikan kepada teman-teman yang menanyakan, betul menurut teman saya yang membuat berita itu, betul Pak Harto menyatakan bersedia mundur," kata Ansel.
Mempersingkat kunjungan
James mengakui bahwa ada kekhawatiran Kompas ketika itu. Ia mengakui bahwa judul yang dipakai merupakan hasil interpretasi.
"Pak Harto memang enggak pernah bilang saya mau mundur. Pak Harto cuma ngomong kalau rakyat tidak lagi menghendaki saya, maka saya akan mendekatkan diri pada Tuhan, pada keluarga dan pada anak cucu. Kami andaikan itu artinya dia sudah enggak bertahan. Jadi dia mundur," ujar James.
Soeharto kemudian memperpendek kunjungannya di Mesir dan kembali ke Tanah Air pada Jumat, 15 Mei 1998 pagi. Pasalnya, situasi Indonesia semakin kacau.
Seharusnya, Soeharto melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Mubarak. Lokasi kemudian pertemuan diubah. Mubarak akhirnya menemui Soeharto di Hotel tempatnya menginap.
Oscar menceritakan, di lobi hotel sudah penuh sesak wartawan asing. Salah satu wartawan asing itu bertanya kepada Osdar di mana wartawan Kompas.
"Waduh, saya bilang ngga tahu, di sana kali. Padahal saya yang ditanya. Mereka ingin tahu kenapa bisa ada berita Soeharto akan mundur. Mereka ingin tahu gimana prosesnya ucapan itu," kata Osdar.
Soeharto bantah
Wiranto dalam bukunya "Bersaksi di Tengah Badai" bercerita, setelah kembali ke Tanah Air seusai kunjungan ke Mesir pada 15 Mei, Soeharto memanggil para menteri.
Momen itu dihadiri Menko Polhukam Feisal Tanjung, Mendagri R Hartono, Mensesneg Saadillah Mursjid, Menteri Kehakiman Muladi, Menteri Penerangan Alwi Dahlan, Kepala Bakin Moetojib, Jaksa Agung Soedtjono C Atmonegoro, dan Wiranto.
Selain meminta laporan situasi Tanah Air, Soeharto juga mengoreksi pemberitaan yang berisi dirinya siap mundur.
"Yang saya nyatakan adalah kalau masyarakat tidak lagi memberikan kepercayaan, sebetulnya tidak apa-apa. Kalau tidak percaya, ya sudah. Saya tidak akan mempertahankan dengan kekuatan senjata. Saya akan mandeg pandito, akan mendekatkan diri dengan Tuhan. Membimbing anak-anak supaya menjadi orang yang baik dan kepada masyarakat bisa memberi nasihat, bagi tut wuri handayani," kata Presiden.
Kepada publik, Soeharto juga mengklarifikasi pemberitaanKompas itu. Soeharto membantah dirinya mengatakan,'saya siap mundur'.
Untuk memuat berita klarifikasi itu, redaksi Kompas saat itu dihadapkan pada dua pilihan judul berita.
"Saya punya dua pilihan waktu bikin judul berita klarifikasi itu. Pertama 'Soeharto Bantah Katakan Siap Mundur' atau yang kedua, 'Soeharto: Tidak Benar Saya Katakan Saya akan Mundur'. Ada dua hal itu," ujar James.
Dua judul berita itu memiliki dua nuansa yang berbeda pula. Judul pertama, memberikan kesan bahwa Soeharto meralat pernyataan bahwa dirinya akan mundur.
Sementara, judul kedua memberi kesan bahwa berita Kompas soal Soeharto siap mundur adalah salah.
"Akhirnya saya pilih judul pertama. Jadi seakan-akan dia sudah ngomong, lalu dia bantah. Dalam posisi seperti ini, posisi kami menjadi lebih kuat kan," ujar James.
Setelah itu, Soeharto mengumumkan akan merombak kabinetnya. Ia juga tiba-tiba membuka peluang berkomunikasi dengan tokoh oposisi.
Redaktur politik Kompas lainnya, Myrna Ratna berpendapat, upaya itu terlambat. Situasi Ibu Kota sudah tidak dapat dikendalikan.
"Seharusnya mendengarkannya dari beberapa bulan sebelumnya, dialog dengan mahasiswa, tokoh oposisi. Karena situasi ini sudah bergulir sedemikian genting," ujar Myrna.
Pada 17 Mei 1998, mahasiswa menduduki Gedung MPR/DPR. Mereka menuntut Soeharto mundur dari kursi presiden. Aksi itu terus berlanjut sampai 19 Mei 1998.
Berita "Selamat Datang Pemerintahan Baru"
via commons.wikimedia.orgPresiden Soeharto saat mengumumkan mundur dari jabatannya di Istana Merdeka, pada 21 Mei 1998.
James melanjutkan, pada 20 Mei 1998 malam, redaksi Kompassudah mendapatkan informasi bahwa Soeharto akan menyatakan berhenti sebagai Presiden pada keesokan harinya. Namun, tidak ada seorang pun pejabat negara yang bersedia dikonfirmasi soal itu.
"Kalau kami tulis kita sendiri yang bilang Pak Harto akan mundur besok pagi, kalau enggak jadi mundur, kredibilitas Kompas rusak. Jadi kami perlu orang yang ngomong bahwa besok Pak Harto mundur atau judul apalah pokoknya isi dari judul Kompas itu memberitahu kepada masyarakat di pagi hari bahwa Pak Harto hari itu akan mundur," ujar James.
Sebuah judul pun dipilih mewakili kondisi pemerintahan Indonesia saat itu. "Selamat Datang Pemerintahan Baru."
Wakil Pemimpin Redaksi Kompas Budiman Tanuredjo mengakui, terjadi perdebatan dalam pemilihan judul itu. Terlalu berisiko jikaKompas menulis judul terang-terangan bahwa Soeharto mundur.
"Kenapa judul itu yang dipilih? Karena Kompas akan terbit pada jam 07.00 atau jam 08.00 pagi dan Soeharto akan mengumumkan pengunduran diri jam 10.00 WIB sehingga tidak mungkin kami memberikan judul bahwa Soeharto mundur. Itu akan sangat berisiko secara politik kalau Soeharto membatalkan niatnya untuk mundur," ujar Budiman.
August Parengkuan kala itu berpikir, pemerintahan boleh dibilang lumpuh. Dengan wewenang yang dimiliki, ia pun memutuskan untuk mencetak headline "Selamat Datang Pemerintahan Baru."
"Sudah lumpuhlah pemerintahan waktu itu sehingga siapa yang takut pada pemerintahan yang sudah lumpuh?" ujar August.
Akhirnya, pada 21 Mei 1998 pukul 09.05 WIB, di ruang Credentials Room di Istana Merdeka, Soeharto mengumumkan, ia berhenti sebagai Presiden RI. 

James mengatakan, "Ketika pagi-pagi akhirnya Pak Harto jadi mundur, kita jadi menang..."
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...